Showing posts with label berbagi cerita. Show all posts
Showing posts with label berbagi cerita. Show all posts

Tuesday, November 15, 2016

0 Kehilangan

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Lima bulan sudah terhitung dari postingan terakhir di blog. Kemana saja saya selama ini? Apa yang telah diperbuat? Berapa banyak manfaat yang sudah dilakukan? Pelajaran apa yang didapat? Berapa banyak kesalahan yang sudah terjadi? Jawaban atas pertanyaan diatas akan dibuat dalam sebuah cerita yang kedepannya akan menjadi catatan pengingat bagi diri ini yang sering lupa.

Cerita ini diawali dengan dua social media yang saya gunakan dalam mengisi waktu luang. Isinya menggambarkan kebahagiaan dan kesuksesan orang lain serta opini-opini mereka dalam menanggapi suatu hal. Disini saya menyimpulkan bahwa, kemungkinan orang diluar sana menilai hidup saya sekarang sukses, bisa tinggal di luar negeri dengan waktu yang cukup lama, bisa merasakan kehidupan sebagai seorang muslim ditengah non-muslim, dan lain-lain. Begitupun saya, melihat kehidupan teman-teman yang lain seolah ringan dan penuh kenikmatan. Padahal mereka tidak tahu apa yang sudah mewarnai hidup saya disini, hehehe. Lagi-lagi, itulah hidup, itulah manusia!

Disini saya akan memberikan gambaran mengenai beberapa cerita yang sudah terjadi di bulan Agustus&September. Saya kehilangan uang sekitar $1.600 karena ketidaktelitian memilih tempat kerja. Uang yang seharusnya saya dapat hasil kerja keras selama 13 hari entah kemana, employer saya tidak memberikan hak itu, ia malah kabur, memblokir nomor telepon saya dan sekarang entah dimana. Awalnya saya sangat kecewa dan terus menangis setiap ingat hal ini, mengadu pada Alloh, “Mengapa ini semua terjadi disaat saya membutuhkannya?” Sebagai warga asing disini, hal yang sudah saya lakukan adalah melapor pada imigrasi namun mereka tidak memberikan respon yang baik, lalu saya melapor dua kali pada Polisi dengan kantor yang berbeda, tapi keduanya tidak menanggapi masalah ini. Mereka mengatakan bahwa persoalan ini bukan wewenangnya, saya disarankan menghubungi dua kantor lain yang berbeda. Kesalahan saya disini memang tidak mengetahui jelas perusahaan tempat saya bekerja dan tidak ada kontrak yang ditandatangani, karena ini pekerjaan casual, jadi mau tidak mau saya harus akhiri kasus ini dengan keikhlasan. Dalam benak saya, kehilangan uang 16juta (yang sebetulnya bisa digunakan sebagai biaya hidup selama satu bulan, atau bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat) sungguh menyesakkan dada. Dikala diam, saya terus menangis, mengapa tidak? Saya sakit hati karena hasil keringat saya yang dilakukan dengan menempuh perjalanan pagi hingga matahari terbenam sia-sia begitu saja, tenaga dan waktu yang sudah saya keluarkan tidak memberikan hasil. Lelah yang dirasa saat harus berlari mengejar kereta tidak dihargai. Tapi apa yang bisa saya lakukan sekarang? Mengikhlaskan. Iya, sudah berkali-kali saya mebahas ilmu ikhlas didalam blog ini, kenapa? Karena saya sering kehilangan. Padahal, apa sih makna kehilangan itu sendiri? Saya mengoreksi diri dan hati ini, sebetulnya apa pantas saya bilang ini kehilangan? Tidak, tidak sama sekali! Apa yang hilang padahal itu bukan milik kita, semua milik Alloh! Uang sekecil itu dimata Alloh bukan apa-apa, Alloh sang pemilik bumi dan alam raya ini. Semua milik Alloh. Hei Riska, sadar!!! Alloh memberikan pelajaran ini untuk terus melatih ilmu ikhlas. Belum tentu saya bisa bersedekah sebanyak ini, anggaplah sebagai sedekah yang harus dibayar, anggap waktu dan tenaga yang berlalu sebagai nilai ibadah, jadikan syukur yang harus dibayar atas nikmat lain yang telah Alloh berikan. Saya juga terus melatih ilmu berbaik sangka pada Alloh, bisa jadi  Alloh hanya mengambil sebagian dari uang saya, padahal seharusnya ada kecelakaan yang harus saya alami. Bisa jadi ada penyakit yang harus saya derita, tapi karena kasih sayang Alloh, Ia hanya mengambil nominal uang. Semua sudah terencana dengan baik, saya bersyukur masih diberikan kesehatan, kenikmatan hidup, juga kenikmatan beribadah, itu yang seharusnya diperhatikan.

Dua minggu lalu, saya kehilangan helmet yang biasanya disimpan dan dikunci bersamaan dengan sepeda di stasiun. Harganya memang tak seberapa, tapi saya tidak bisa menggunakan sepeda tanpa helmet, dikarenakan untuk mematuhi aturan. Saya fikir, mungkin ada orang yang lebih membutuhkannya, jadi mau-tidak mau ia harus mengambilnya dengan cara menggunting. Dan ternyata? Hari minggu kemarin, lengkap sudah sepeda saya juga hilang, hehehe. Saya biasa meninggalkan sepeda di stasiun setiap sore pulang kerja dan “menginapkannya” dan besok pagi saya gunakan untuk berangkat ke tempat kerja. Sesaat ditangga stasiun, biasanya sepeda saya terparkir dan terkunci, tiba-tiba hanya menyisakan rantai kunci yang terputus. Apa respon saya pada saat itu? Hanya senyum dan tertawa kecil. Saya berfikir mungkin semalam ada orang pulang mabuk dan butuh kendaraan untuk ke rumah, makanya ia merusak rantai kunci dan membawa sepedanya pulang. Akhirnya, kembali jalan kaki menempuh 4,5KM pulang pergi dari rumah ke tempat kerja, hehehe. Karena sebelumnya sudah banyak dilatih untuk ikhlas, maka kedepannya semoga tetap dikuatkan menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Bagi saya, kehilangan itu bagian dari kenikmatan, kenikmatan bagi hati yang menikmati dan mengikhlaskan. Lagipula, kehilangan itu merupakan sebuah proses mendapatkan dan menemukan. Saya meyakini Alloh tidak pernah tidur, akan ada banyak hal yang saya dapatkan dan temukan yang lebih besar nilainya. Jauh lebih baik kita kehilangan apa yang dimiliki daripada kita kehilangan keimanan kepada Alloh, juga kehilangan kasih sayang dan ridho-Nya.

Hilang + Ikhlas = Kembali

Salam,

Sydney, 15 November 2016.

(Menulis dengan diiringi flu berat)

Wednesday, June 15, 2016

0 Ramadhan dan Winter

Ramadhan yang betul-betul penuh berkah, Alhamdulillah saya merasakan berpuasa di cuaca dingin. Belum dibayangkan sebelumnya jika harus berpuasa, sambil bekerja di farm ditambah dengan cuaca 400c, panas yang luar biasa yang sudah pasti dehidrasi. Tapi itu hanya imajinasi, kenyataannya saya berpuasa ditengah cuaca dingin. Jauh sebelum ramadhan tiba, saya sudah download jadwal imsak dan sholat dan Alhamdulillah, lebih pendek dari yang biaasa dilakukan di Indonesia, ya hanya 11 jam. Menjelang hari pertama, rasanya sudah amat ditunggu-tunggu, telepon keluarga di rumah menanyakan kondisi ramadhan disana nantinya dan diberikan wejangan-wejangan oleh orang tua, disini tepat diawali pada hari Senin, 6 Juni 2016, yang berarti minggu malam sudah melaksanakan sholat tarawih. Lokasi masjid yang berada sekitar dua kilometer dari tempat tinggal memudahkan saya untuk menuju kesana, Alhamdulillah baru kali ini menginjakkan kaki di masjid itu setelah hampir sebulan tinggal di kota ini. Tiba diluar masjid, “Ko sepi ya?” ternyata memang belum banyak yang datang. Tempat sholat wanita berada di lantai dua dan sudah ada dua orang wanita mengenakan mukena sedang duduk manja disana. Dalam hati saya bilang, “Ini ko mukenanya modelan mukena yang suka temen-temen saya pake ya, bahannya, coraknya, kayanya orang Indonesia deh(karena di masjid-masjid lain yang saya singgahi juga biasanya ketemu orang yang pakai mukena macem-macem, ya Cuma orang kita, hehehe).” Lanjut, saya hanya senyum cantik dan mengucapkan salam. Usut punya usut, mereka berdua ngobrol eh pakai logat ibu-ibu sosialita Indonesia, dan taraaaa akhirnya saya tanya,”Mbak orang Indonesia juga?” Yaelaaaah, jauh tarawih di Australia ternyata ketemu orang Surabaya dan Lombok, hahaha. Yaudah akhirnya punya pasukan bermukena deh.

Jadwal sholat di masjid sebelum ramadhan

Tarawih yang berbeda

Beda masjid, beda juga kebiasaan tarawih yang digunakan. Bacaan sholat disini cukup singkat dan saya mempelajari dengan mendengarkan tuntunan sholat dari salah satu ustadz di Australia ternyata ada beberapa hal yang membuat singkat, berbeda dengan bacaan sholat yang saya pelajari saat kecil. Misalnya diawal sholat tidak membaca Doa Iftitah, lalu bacaan rukuk ”Subhaana robbiyal’adhiim”, lalu pada I’tidal hanya membaca “Robbanaa walakal-hamd”, sujud membaca “Subhaana robbiyal’alaa”, duduk diantara dua sujud membaca “Robbighfirlii” hal inilah yang membuat lebih singkat dari sholat saya biasanya. Mashaa Alloh, keberagaman sholat tanpa mengurangi rukun-rukunnya, perbedaan mazhab bukan menjadikan halangan dalam beribadah, inilah islam. Maklum saya orang kampung yang baru belajar di Negara orang, belajar memahami kehidupan muslim disini. Oya, ada hal yang berbeda pada saat sholat witir yang langsung digabung menjadi tiga rakaat, rakaat pertama dan kedua aman, pada saat rakaat ketiga, imam masih mengeraskan Alfatihah dan Al Ikhlas, dan selesai membaca surat lalu mengangkat tangan dan “Allohuakbar”, saya langsung rukuk seperti biasa dan cukup lama menunggu I’tidal (ko ga berdiri-berdiri ya). Ternyataaaa, mereka masih berdiri dan pada “Allohuakbar” berikutnya barulah rukuk. Berhubung tempat wanita tidak bisa melihat imam, jadi ya saya ada kesalahan akibat ketidaktahuan. Dari sanalah saya banyak belajar, ternyata seperti ini ya keberagaman yang lainnya, Alhamdulillah nikmat iman dan islam yang luar biasa. Sholat tarawih disini cukup singkat, hanya 11 rakaat(termasuk witir), surat yang dibacapun tidak begitu panjang, jadi kurang dari satu jam sudah selesai rangkaia sholat isha hingga witir. Di malam pertama sholat hanya terdiri dari enam orang jamaah wanita, Alhamdulillah malam-malam berikutnya terus bertambah hingga suatu malam sangat penuh. Kebanyakannya adalah orang Sudan (berkulit hitam). Oya, mereka (orang Sudan) sholatnya mengenakan pakaian biasa dan tanpa menutup kaki. Jadi pada saat sholat tidak dibalut dengan kaus kaki atau pakaian panjang, jadi si kaki itu masih kelihatan. Wallohualam bishowab….

Hal lain yang membuat saya tertawa geli adalah, seusai sholat saya masih kebagian jatah lollipop, jadi ada Bapak-bapak yang bertugas membagikan lollipop itu pada anak-anak, berhubung mungkin wajah saya masih terbilang muda belia seperti anak baru lulus SD, jadinya masih kebagian deh, lumayanlah rezeki orang cantik, hahaha.

Ini dia oleh-oleh pulang tarawih
Berbuka dengan yang manis

Menu buka puasa hari pertama
Hari pertama buka puasa, yaitu dengan segelas coklat hangat, vegemite toast, spaghetti juga tentunya buah-buahan. Ah ini buka puasa belaga kaya bule haha, tanpa nasi! Besok-besok akhirnya buat bakwan dan makan nasi deh. Di hari selanjutnya-selanjutnya buka-buka resep di youtube dan cookpad akhirnya mau coba buat kolak biji salak labu kuning, dengan semangat membara belanja kebutuhannya, santan, gula jawa (400gram=$3=mahal) yang beli di Asian market, labu kuning, tepung tapioca, menghabiskan sekitar $10 untuk beberapa mangkuk kolak. Saking antusiasnya, dari jam 12 siang sudah repot di dapur (padahal lagi ga puasa juga karena halangan), step by step yang dari youtube diikuti akhirnya jadilah adonan. Tapi memang, kenyataan kadang tak sesuai harapan, awalnya mendambakan biji salak dengan bentuk padat dan bulat sempurna namun yang terjadi lembek dan seperti kerupuk yang direbus (baca: seblak). Penyebab semua ini terjadi adalah labu kuning yang sudah mengandung banyak air malah direbus (akibat tidak ada kukusan), ya jadinya semakin banyak air. Tapi apa boleh buat, jangan dilihat dari bentuknya, tapi pahami rasanya, hehehe. Not bad lah, untuk ukuran anak gadis yang belum pernah membuat makanan sejenis ini sebelumnya. Dari sinilah saya belajar sebuah siklus kehidupan, kadang manusia terlalu menginginkan suatu hal dalam hidupnya, sudah berusaha keras dan mengorbankan waktu, tenaga dan uang namun kenyataan yang didapat tidak sesuai dengan yang ada dalam angan-angannya. Semua kehendak Alloh, tapi proses yang dijalani menjadi penting dan bermanfaat karena kita bisa mengetahui penyebab yang membuat hasil kurang maksimal itu apa, jadi ya nikmati prosesnya ambil manfaatnya, karena prinsip saya “Tidak ada orang ahli tanpa mengawali dari awal”. Dari semangkuk kolak saja ada yang bisa dipetik, apalagi dari semangkuk bakso yah, hehehe.
Bentuknya entah mirip kurma atau seblak?
Video singkat kolak biji salak
Kehidupan bertetangga

Saya saat ini tinggal di share house yang diisi oleh tujuh orang, sayangnya disini tidak ada fasilitas wifi, padahal rumah dan isinya sudah oke. Akhirnya ada inisiatif untuk mengunjungi tetangga yang wifi-nya terdeteksi ke kamar, dari sanalah kehidupan bertetangga dimulai. Dengan basa-basi ngobrol dan mengajukan diri untuk bisa bergabung (nebeng bayar) dengan menyumbang $20 (seperti yang pernah dilakukan di rumah di Lakemba, NSW) dan akhirnya diberilah kode dan passwordnya, ternyata tetangga itu adalah muslim. Hari-hari berlalu dan sudah beberapa minggu saat sedang buka puasa di tempat kebab, tetangga itu menelepon agar mengambil makanan buka puasa dirumahnya. Lagi-lagi, kondisi saat itu saya masih tidak berpuasa dan sudah kenyang makan kebab, eh ada rezeki tambahan jangan ditolak. Sesampainya dirumah setelah magrib, diambilah makanan itu ke rumahnya dan Alhamdulillah, cukup untuk dua kali makan dan lucunya, uang wifi yang dulu malah dibalikin lagi hehe, sudah dapat makanan lengkap, dapat pula uang. Rezeki ramadhan, Alhamdulillah. Entahlah tetangga itu namanya siapa, asalnya dari mana, yang pasti inilah kehidupan sesama muslim, punya keterikatan tersendiri. Lagi-lagi, nikmat iman dan islam betul-betul terasa disini. Ahhh jadi rindu orang tua di rumah.
Kiriman dari tetangga
Oya sahabat, begitulah seklumit kisah minggu pertama ramadhan saya tahun ini, apabila masih diberi kesempatan hidup, semoga bisa dilanjut dengan tulisan-tulisan ramadhan berikutnya di Negara yang berbeda, aamiin….

Saat akan menutup tulisan ini ada yang saya lupakan, judulnya kan ada kata ‘Winter’nya, tapi ko belum ada pembahasan mengenai ini ya? Hehehe. Keasyikan membahas ramadhan sampai lupa dengan winter disini yang dimulai dari awal Juni kemarin. Hingga saat ini temperature terendah yang saya alami hanya berkisar pada 10C, awalnya kaget menghadapi winter karena belum terbiasa dengan kondisi dingin, jadi wajar sempat cemas dan putus asa (lebay), karena kerja dalam kondisi dingin, tidurpun kedinginan. Akhirnya membeli sleeping bag lagi (karena diskon dari $120 jadi $80) dengan temperature -100C dan cukup membantu mengatasi dingin saat tidur. Di rumah ini “katanya” tidak boleh pakai heater karena menguras tenaga listrik yang cukup besar, padahal di ruang tengah ada heater di perapian dan mubadzir tidak suka dipakai. Daripada menyiksa diri sendiri, saat saya ke K-Mart, ada heater yang harganya menggoda akhirnya langsung dibeli deh. Hari demi hari akhirnya saya merasakan winter dengan kepanasan, haha. Bermodal $15, jemuran yang tidak keringpun bisa kering dengan hanya digantung di kamar, jadi bisa dibayangkan bagaimana panasnya, panas seperti di parkiran. Ya namanya juga barang murah dan imut-imut kecil, kualitas bisa sebanding dengan harga, kalau beli yang ukuran besar (selain dibawanya ribet, nanti ketahuan juga sama yang punya rumah, hehehe).

Magic stuff
Pagi ini cuaca diluar sedang cerah-cerahnya, aktivitas hanya dirumah sendiri, akhirnya banyakin nulis lagi dan buka-buka catatan IELTS, teriring salam dari sini ya sahabat…. Selamat menjalankan ibadah puasa….

Bonus ekspresi kediinginan saat buka puasa di jalan di bangku taman

Sunday, March 27, 2016

0 Jadi Petani di Australia

Lagi-lagi, keinginan hanyalah menjadi keinginan yang tidak kesampaian. Sebetulnya saya ingin rutin menulis di setiap weekend, namun apa daya, kesibukan duniawi menjadikan saya seperti ini. Alhamdulillah pada kesempatan sekarang masih bisa diizinkan untuk menulis, tepatnya bada subuh di hari Jumat yang indah. Berbicara hari jumat, sudah tiga kali setiap Jumat disini cuacanya kurang bagus, yang terparah adalah Jumat lalu. Pertama kalinya saya merasakan diterjang angin yang sangat besar di tengah ladang pertanian, Allohuakbar, rasanya luar biasa. Berat badan saya ini terkalahkan oleh hembusan angin yang tiba-tiba datang, ditambah dengan hujan yang tidak ditebak datangnya kapan, juga awan mendung yang amat cepat bergerak. Hal ini bukannya membuat saya panik, nyatanya saya tertawa karena takjub dengan yang dirasakan pada saat itu, ini juga sebagai bukti syukur saya. Di luar sana, banyak saudara-saudara kita yang terkena musibah, banyak yang langsung meninggal, tapi Alhamdulillah Alloh masih menjaga saya dan masih memberikan kesempatan untuk hidup (yah alay deh jadinya).

Pemandangan setap pagi
Kembali kepada judul, di Kota Griffith saya bekerja di salah satu Nurseries yang mengelola pohon Almond, Aprikot, Plum, Peach dll. Pekerjaan saya tentunya di hamparan ladang yang dipenuhi dengan rapihnya barisan pepohonan. Hal yang belum pernah dibayangkan sebelumnya menjadi seorang petani di Australia. Aktivitas ini betul-betul menyita tenaga, karena bekerja dibawah terik matahari dan cuaca yang selalu berubah. Bisa jadi pagi-pagi berudara 9oC, siangnya 35oC, malamnya hujan, atau bahkan pagi-pagi dengan 17oC, siang menjadi 40oC, dan yang sangat membantu adalah website ini, karena setiap hari bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi cuaca.

Barisan pepohonan yang saya rawat
Pekerjaan disini saya anggap sebagai bermain sambil belajar, karena memang sangat relevan dengan impian saya dimasa depan, yaitu mempunyai ladang luas untuk mengajak anak-anak belajar cara menanam, merawat pohon, menjaganya sampai tumbuh besar. Yang saya timbulkan disini adalah menganggap semua pohon seperti anak sendiri, meskipun kenyataannya belum punya anak hehehe jadi mulai dari menanam dengan penuh kasih sayang, merawatnya dengan tanggung jawab penuh dan hasilnya bisa dirasakan saat semua pohon yang kita rawat tumbuh sempurna. Pekerjaan saya setiap hari berubah, tapi karena saat ini pohon-pohon sudah mulai banyak yang tumbuh, jadi lebih banyak memotong cabang-cabang dengan ukuran tertentu, membersihkan bagian bawah pohon juga mengarahkan mereka pada cahaya matahari. Jujur, di Indonesia saya belum pernah kerja di sawah, karena memang tidak mempunyai ladang, juga belum pernah main kotor-kotoran di sawah. Tapi disini, saya  begitu bebas menjalani aktivitas, setiap harinya wajah penuh dengan debu, baju dan celana kotor oleh tanah, juga kulit yang sedikit belang meskipin sudah pakai sunscreen dan baju serba tertutup, tapi percaya tidak percaya, panasnya matahari tembus kedalam loh, jadi tetap saja belang, hahaha.
Perlengkapan kerja
Nyolong selfie pas jalan kaki
Ada hal menarik disini, saya seperti berada dalam kelas internasional, dulu saat saya di Faster English Pare, sering diberi tayangan sitcom dari UK, yaitu mind your language yang menceritakan tentang satu kelas Bahas Inggris yang terdiri dari beberapa siswa dari Negara yang berbeda-beda. Akhirnya di ladang ini juga saya merasakan hal tersebut, hampir semua yang bekerja disini adalah backpackers untuk mendapatkan second year visa, kebanyakan mereka berasal dari Eropa, dari Asia sendiri hanya bisa dihitung jari, sangat sedikit. Jadi saya kadang tertawa mendengar orang Italia berbicara dengan orang Perancis dengan logat masing-masing, orang Taiwan dengan orang Jerman, Vietnam dengan American, hahaha, lucu pokoknya. Disini saya lebih sering mendengarkan dibanding berbicara, lumayan untuk melatih lisening saya dalam IELTS nanti. Namun yang paling juara adalah Britiish, saya mempunyai banyak teman yang menggunakan British Accent, OMG, meskipun belum ada di Bitania Raya, tapi setidaknya setiap hari mendengarkan mereka berbicara itu sudah memanjakan telinga saya. Disini saya makin jatuh cinta pada accent tersebut, ada juga Irish accent, Scottish, dan pastinya bos saya yang kental dengan Australian accentnnya.

Teman-teman pada saat makan siang
Transportasi ini yang membawa kami kesana kemari
Petani backpackers disini keren-keren, mau ke sawah saja bawa mobil sendiri (karena tidak ada angkutan), uang yang mereka dapat kebanyakn digunakan untuk jalan-jalan dan party, jadi sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu 88hari sebagai syarat apply second year visa, lalu jalan-jalan, ada yang ke Amerika, keliling Asia, Eropa atau saya mungkin ke Mekkash, hehehehe aamiin. Beda halnya dengan orang Asia, kerja disini untuk mengumpulkan uang lalu dikirim ke negaranya baik untuk keperluan keluarga atau untuk kebutuhan masa depan, iya, saya terlahir di tanah Asia, khususnya Indonesia yang memang mempunyai tradisi seperti itu, hehehe.

Inilah yang saya suka, Sunrise gratis
Luar biasa pengalaman menjadi seorang petani di Australia, bukan hanya mendapatkan dollar yang lumayan, tapi banyak pelajaran yang didapat. Di tempat ini pula saya mengibaratkan belajar menjadi seorang ibu, saat saya hamil bisa diumpamakan sebagai bad trees, lama-lama bad itu muncul seperti kita melahirkan seorang anak, saat bad masih kecil, di sekitarnya harus terdapat cabang-cabang pohon untuk melindungi, sama halnya seperti orang tua yang harus selalu ada untuk bayinya, menjaga dan terus berada disampingnya. Saat tumbuh besar, banyak cabang yang harus digunting rapi sesuai ukuran, ini mengumpamakan agar anak kita harus terus dirawat dengan ditamkan prinsip-prinsip hidup yang jelas, agar pondasinya kuat kelak saat tumbuh besar bisa mandiri dan selalu ingat apa yang orang tua ajarkan, membersihkan sucker yang ada pada bawah pohon menunjukan bahwa pastinya ada saja yang tidak suka pada anak kita, banyak hal yang menghambat tumbuh kembangnya, inilah tugas orang tua untuk terus memperhatikan dan membersihkan anaknya dari hal-hal yang membuat perkembangannya terganggu, terakhir yaitu weeding, mencabut rumput yang ada di sekitar pohon, hamper sama dengan membuang sucker, tujuan utamanya agar tidak mengganggu dari faktor luarnya, bisa jadi karena lingkungannya, atau teman-temannya. Kurang lebih seperti itulah, jadi pada saat mereka sudah tumbuh besar, pucuk pohon menghadap matahari dengan tegak, pasti akan menghasilkan buah yang banyak yang terus dan terus berbuah, ini juga bisa dikatakan apabila kita berhasil merawat anak, mereka akan menjadi anak yang sholeh-sholehah, kelak saat orang tuanya sudah tidak ada akan menjadi amal jariyah, Inshaa Alloh.

Ambl gambar sembunyi-sembunyi, mereka jarang ada yang foto-foto
Wajah pulang kerja menuju shade
Antara sedih dan tidak, entah ini akan menjadi minggu terakhir saya atau bukan karena besok sabtu saya harus ke Melbourne untuk mencari pengalaman baru. Lagi-lagi, saya hanyalah seorang perantau yang mencari nafkah dan mencari makna hidup yang dalam, terimakasih Work and Holiday Visa membuat kehidupan di Australia menjadi mudah. No working=No money, it means kerja dulu baru liburan, uang habis ya kerja lagi. Ngumpulin uang lagi buat sekolah :D doakan ya teman-teman agar lelah ini terus menjadi berkah.

Sunday, February 28, 2016

0 Merantau ke Griffith

Minat setiap orang tentunya berbeda;beda, termasuk dalam hal mencari tempat tinggal. Bagi saya pribadi, hidup di kota bsar adalah salah satu hal yang membosankan karena kehidupannya terlalu memudahkan kita mendapatkan apa yang diinginkan, tantangannya kurang terasa dan terkadang gemerlapnya hidup di kota besar bisa melenakan kita, termasuk tinggal di Sydney yang bisa dikatakan kota serba ada. Meninggalkan kota adalah salah satu pilihan tepat bagi saya untuk mendapatkan pengalaman baru, tepat pada hari sabtu, tanggal 13 Februari saya menuju kota Griffith NSW, kota kecil yang berada di tengah Sydney dan Melbourne dan penuh dengan ladang pertanian dan juga salah satu kota terbesar penghasil anggur untuk diproduksi menjadi wine. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 8,5 jam dari central station, Sydney dengan menggunakan kereta. Saya berangkat dari rumah bada subuh, mengejar kereta sebelum jam 6 pagi, dengan perbekalan makan yang cukup untuk di perjalanan juga dengan segambreng barang-barang yang dibawa(termasuk rice cooker, selimut dan barang pertempuran lainnya) betul-betul membuat saya berkeringat di pagi hari buta. Bayangkan saja, saya membawa satu koper, ransel dan dua jinjingan tangan besar. 

Pemandangan yang diambil dari kereta
 Alhamdulillah, Alloh menguatkan diri ini. Semua barang itu bisa saya bawa hingga ke stasiun, meskipun seringkali berjatuhan dan membuat orang iba melihatnya, huufffttt. Akhirnya penderitaan itu terbayar dengan pemandangan psepanjang perjalanan yang ditawarkan, betul-betul semuanya adalah hamparan ladang luas, banyak kuda-kuda yang sedang berlarian, sapi-sapi memakan rumput, burung yang saling berkejaran dan binatang lain yang mungkin tidak terlihat. Mata ini begitu dimanjakan dengan ketenangan alam, sepanjang mata memandang yang teringat dalam benak adalah tanjakan cinta-nya gunung Semeru, persis banyak sekali bukit-bukit seperti ini, tidak terhitung jumlahnya.

Wajah kelelahan membawa banyak barang hehe
Banyak bangku kosong
Setibanya di Griffith, yang saya rasakan adalah temperature yang ekstrim. Hal ini membuat saya sedikit ragu apakah akan betah tinggal disini atau tidak, karena jam 3 sore, panasnya sedang di angka 390C. WOW……..dan ternyata ini belum seberapa, ada juga masanya mencapai 440C. Hahaha. Kesan selanjutnya yang didapat adalah tidak terlihatnya orang yang mengenakan kerudung dan betuk-betul seperti kota mati, di pusat kotanya saja jalanan begitu sepi. Inilah yang saya cari, ketenangan menikmati hidup dan terhindar dari kebisiningan. Akomodasi yang saya dapat disini berupa Guest House yang ada di pinggiran kota, lumayan lah jaraknya tidak terlalu jauh untuk membeli persediaan makanan.

Bagaimana mencari makanan halal?

Berbanding terbalik dengan tinggal di Lakemba yang sangat mudah mendapatkan bahan makanan halal dan masakan Indonesia yang sudah jadi. Disini saya tidak menemukan butcher halal yang lengkap. Pertama tiba di Griffith, saya membeli kebab dengan harga $10 yang merupakan salah satu makanan halal, berhubung saya tidak terlalu suka kebab, jadi ya dipaksa saja makan, asal perut terisi. Dan pada saat pusat perbelanjaanpun, daging halal amat susah dicari, hanya ada satu brand dari produknya Baiada Poultry(Pabrik ayam), yang sangat membantu saya memenuhi protein untuk hidup disini, produknya adalah Steaggles Chicken. Memang produknya sangat terbatas apabila kita temukan di tempat belanja, namun mereka menyediakan outlet sendiri yang lokasinya berdekatan dengan Baiada itu sendiri. Disinilah keimanan kita diuji untuk teliti memilih makanan dan juga menahan diri agar tidak sembarangan membeli makanan. Saya selalu ingat pesan Bapak agar terus masak sendiri, tidak membeli makanan diluar yang belum dijalamin kehalalannya. Bapak selalu mengingatkan, apa yang kita makan akan mengalir di tubuh ini, merpengaruh pada fikiran dan akyivitas kita kedepannya. Maka saya harus survive dengan tidak adanya Bakso, mie ayam dll. Hahahaha. Oya saya juga tinggal di Guest House yang mengaharuskan kita share kitchen dan toilet, tentunya perabotan masak harus saya beli sendiri karena saya menemukan banyak yang memasak pork, jadi saya menghindari menggunakan panic yang ada disana, sekalipun harus membayar $1 untuk menyalakan kompor per 30 menit masak.

Apa yang dilakukan di Griffith?

Saya disini bekerja sebagai nursery, kerja di alam terbuka yang setiap harinya bisa menyaksikan matahari terbit dan sejuknya udara, ditambah dengan suara yang diciptakan alam membuat rasa lelah bekerja terkadang hilang dengan sendirinya. Betul-betul nikmat mana lagi yang kamu dustakan? Setiap bekerja, seolah saya sedang berada di sekolah alam. Hampir setiap hari saya berimajinasi mengenai sekolah alam impian saya seperti ini, mempunyai hamparan tanah yang luas dan membebaskan binatang wara-wiri di sekeliling saya. Artikel selanjutnya Inshaa Alloh akan saya buat khusus untuk membahas pekerjaan ini, ditunggu saja ya.

Apa transportasi umumnya?

Disini saya belum pernah melihat bis kecuali bis sekolah dan bis untuk perjalanan jauh, transportasi umum yang bisa ditemukan hanya taxi. Saya pribadi, jarang keluar rumah karena aktivitas sehari-hari yaitu bekerja dan di sela-sela liburan, digunakan untuk belanja kebutuhan makanan dengan berjalan kaki. Lagi-lagi disini adalah kota kecil yang sunyi sepi, jadi wajar kondisinya seperti ini. Kebanyakan orang mempunyai mobil pribadi yang harganya memang terjangkau, banyak mobil dengan harga $1000, kalo kasarnya mah seminggu kerja juga udah bisa kebeli mobil. Namun perlu diperhatikan bahwa terkadang harga mobilnya memang terjangkau, namun untuk pembayaran registrasinya yang mahal.

Bagaimana kehidupan muslim disana?

Saya sama sekali tidak menemukan orang Indonesia lagi di tempat kerja, sebagian besar dari mereka adalah backpackers dari Eropa yang mengejar second year visa, entahlah pada kemana ya orang Indonesia-nya, tapi Alhamdulillah banyak orang Malaysia disini. Sebagai sesama orang melayu dan sesama muslim, kita saling mendukung dan membantu. Ada dua orang perempuan muslim dari Malaysia yang menjadi teman saya disini. Minggu lalu, mereka mengundang untuk acara Barbeque dengan memotong 2 kambing, ayam dan udang. Oya, harga kambing disini sangat murah, hanya $50/ekor. Lagi-lagi yang saya dapatkan adalah, indahnya menjadi seorang muslim yang bisa terus berbagi dan bersatu, sekalipun sangat minoritas dan masjid hanya tersedia untuk laki-laki, tetap saja saya masih bisa melaksanakan ibadah dengan tenang. Alhamdulillah. Jadwal sholat disini cukup berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya. Subuh dimulai sekitar 5.30am, Dzuhur sekitar 1.30pm, Ashar 5pm, Maghrib 8.pm dan Insha 9.30pm yang tentunya setiap hari berubah hehehe. Alhamdulillah tetangga saya meskipun banyak non-musli tapi mereka begitu menghargai dan baik, sudah beberapa kali diberi jeruk satu kresek karena pekerjaan mereka sebagai pemetik jeruk, ada juga yang memberikan microwave karena Bapak tersebut bekerja di furnish, hal ini memudahkan saya agar tidak bulak-balik ke dapur. Apa alasan yang mendasari mereka baik kepada saya? Apa karena melihat wajah saya yang patut dikasihani? Hehehe...Oh tidak, Tapi Alloh yang telah menghadirkan mereka disekitar saya. Alhamdulillah.

Selfie deh sama microwavenya
Temperature yang cukup ekstrim

Setiap harinya kita diperlukan untuk membuka perkiraan cuaca dan temperature di internet, agar bisa menyiapkan diri dalam beraktivitas. Terkadang pagi hari amat sangat dingin, siang hari tiba-tiba panasnya luar biasa. Pernah saya bekerja di 440C dan malamnya tiba-tiba sangat dingin. Kondisi tubuh kita harus betul-betul dijaga dengan asupan makanan yang bergizi dan vitamin yang cukup ditambah dengan istirahat yang sesuai.


Sebetulnya masih banyak lagi yang ingin diceritakan, sudah dua minggu saya tinggal disini. Artikel selanjutnya masih menanti dengan cerita lainnya, terimakasih sudah menyempatkan membaca, semoga Alloh selalu melindungi dimanapun kita berada.


Minggu pagi bada subuh…

Friday, February 12, 2016

2 Ngaji di Lakemba

Hari ini tepat hari jumat yang indah, menulis sebuah artikel bada subuh di sudut kamar, menyendiri merindukanMu…

Masjid Ali bin Abi Taleb Lakemba
Alhamdulillah, sudah tiga minggu saya tinggal di daerah Lakemba yang merupakan kawasan muslim terbesar di NSW. Banyak hal yang didapat, bukan hanya pelajaran penting bagaimana hidup di Negara minoritas muslim, namun pelajaran hidup baik segi dunia dan akhirat banyak saya dapatkan dalam waktu yang singkat ini sehingga pada akhirnya, saya betul-betul bersyukur terlahir sebagai seorang muslim. Iya, islam menyatukan kami yang tadinya tidak saling mengenal namun akhirnya saling menyayangi.

Satu minggu pertama saya tinggal bersama keluarga non-Muslim tinggal di suburb 80KM dari Sydney, mereka sangat baik dan begitu menghormati satu sama lain. Kami banyak berdiskusi mengenai islam dan berbagai bentuk ibadah dalam islam, termasuk menutup aurat. Ada pertanyaan yang begitu menggelitik, yakni: “Kenapa kamu harus pakai kerudung? Yang bisa lihat rambut kamu hanya wanita, suamimu dan keluargamu? Kasian dong laki-laki lain tidak bisa melihat aslinya kamu seperti apa? Seolah-olah kamu berpura-pura di depan mereka, wah sayang banget!” Kurang lebih bentuk pertanyaannya seperti itu. Dan apa yang saya jawab? Silahkan tebak :D

Kembali pada Lakemba, pertama kali saya tiba di daerah ini membuat hati merasa sedang ada di kampung Arab, banyak laki-laki berjubah putih dengan janggut panjang dan wanita bergamis hitam, adapula yang memakai cadar. Saya sendiri malu karena pada saat itu tengah mengenakan baju panjang dan celana. Banyak pula yang menjual daging halal dan makanan-makanan halal lainnya, ditambah lagi dengan adanya halal market yang banyak menjual produk-produk Indonesia seperti ikan asin, sambal, kerupuk, bumbu masak dan masih banyak lagi, ini semua seolah menjadi surga dunia yang bisa memanjakan lidah saya karena setiap hari seolah berada di rumah dengan makan makanan rumah.

Di Lakemba, saya tinggal di sebuah unit share room dengan seorang Ibu berusia 60tahun tanpa suami, namun masih sangat sehat dan masih bekerja, Sosok Ibu disini membuat rindu terobati pada Mamah di rumah. Setiap pagi, Ibu bangun untuk melaksanakan sholat malam dan memutarkan Murrotal hingga jam enam pagi, setelah maghrib, disibukkan dengan mengaji hingga menjelang waktu Isha, ditambah lagi dengan puasa senin&kamis yang ia lakoni, Keadaan ini betul-betul seperti di rumah, Bapak mengajarkan untuk mengaji setelah subuh dan setelah maghrib, lagi-lagi saya merasa berada di rumah.

Unit yang saya tempati
Pengalaman pertama saya mengikuti pengajian hari minggu bersama Ibu-ibu(yang usianya hampir diatas 50 tahun semua) di rumah seorang yang berasal dari pakistan, setiba dirumahnya, bentuk pengajiannya di kotak-kotakan berdasarkan bahasa, ada Bahasa Arab, Inggris, Lebanon, Pakistan, Indonesia dll. Karena saya bersama Ibu, dianjurkan untuk mengikuti pengajian di kamar Bahasa Indonesia dan berlangsung sekitar 1,5 jam dimulai pada jam 10.30-12.00. Didalamnya membahas hadits, sejarah islam serta disimpulkan pada six point yang membahas mengenai tauhid. Setelah bubar pengajian, saya jadi senyum-senyum sendiri, merasa malu dan bergumam dalam hati (padahal di belakang rumah, setiap hari senin pagi ada pengajian dan keseluruhannya didominasi oleh ibu seumuran nenek saya, tapi saya belum pernah mengikutinya). Semoga dengan pengalaman tinggal disini, akan terus bisa membuat saya belajar memperbaiki diri dan ibadah, baik pada sesama manusia maupun pada Sang Maha Pencipta. Karena hidup bukan hanya untuk sekarang di dunia, melainkan di akhirat yang Maha Kekal.

Acara TV nya pun SCTV
Salah satu jatah makanan yang saya dapat
Pelajaran penting lainnya yaitu mengenai ukhuwah, cukup banyak warga Indonesia disini. Setiap libur sabtu dan minggu, selalu ada tamu datang berkunjung ke rumah Ibu, baik untuk bercerita satu sama lain atau hanya “say hi”, yang datang pun silih berganti. Dalam sehari bisa ada 5 orang tamu dengan waktu yang berbeda. Salah satu yang saya sukai yaitu apabila sudah ada yang mengirim makanan khas Indonesia, ya meskipun hanya dalam box kecil tapi disini selalu berbagi, misalnya ada seorang Ibu yang sudah merebus ubi dan singkong, mereka mampir kerumah untuk memberikan box kecil yang sudah dinamai, saya tentunya dapat jatah hehehe. Ada juga yang memberikan nasi kotak, nasi kuning dll. Indahnya persaudaraan disini. Indahnya islam menyatukan kami semua.

Oya, di daerah Lakemba terdapat masjid besar dan ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya, hanya berjalan sekitar 7menit berjalan kaki. Pertama saya sholat disana pada waktu maghrib dan bingung dimana lokasi untuk jamaah wanita, karena hampir semuanya laki-laki dan tadinya saya mengurungkan niat karena tidak melihat wanita sama sekali. Akhirnya ditunjukan arah untuk tempat sholat wanita dan Alhamdulillah di lantai dua sudah ada sekitar sepuluh jamaah. Bacaan sholat yang begitu merdu seolah seperti di Makkah dan begitu menyejukkan hati, hal ini lagi-lagi membuat takjub takjub karena masjid tersebut penuh oleh jamaah laki-laki.

Masjid tampak dari sebrang jalan
Refugees Welcome Here
Keindahan kehidupan muslim disini membuat saya merasa sangat betah, namun saya masih harus melanjutkan safar lagi ke tempat lain. Dan cerita lainnya menunggu saya dengan hikmah yang berbeda. Semoga dimanapun saya berada nantinya, bisa terus mendekatkan diri pada Alloh dan selalu ada dalam lindunganNya.

Note: Maaf bagi teman-teman, saya jarang membuka social media jadi tidak bisa secara intens berkomunikasi dengan kalian.

Tuesday, February 9, 2016

0 WHV Sebagai Obat

Australia adalah Negara yang tidak termasuk dalam daftar negara yang ingin saya tinggali dalam kertas 100 impian saya, namun pada kenyataannya, sudah hampir satu bulan saya berada disini. Masih ada sisa sebelas bulan dan saya sudah merasa betah disini. Negara impian untuk melanjutkan studi adalah Inggris, namun untuk bidang pariwisata dan konservasi negara ini tidak bisa diabaikan. Letaknya yang tidak jauh dari negara kita dan hamparan luas lahannya yang masih asri serta pengelolaan pariwisatanya bisa dipelajari untuk kelak di terapkan di Negara tercinta, Indonesia.

Indahnya matahari,langit dan awan
Kegagalan LPDP membawa saya ke Australia untuk mempelajari banyak hal dan semoga ini adalah batu loncatan saya untuk bersekolah di Inggris dan berkeliling dunia. Selang lima hari setelah pengumaman kegagalan LPDP, saya mendapatkan surat rekomendasi dari Imigrasi untuk apply Work and Holiday Visa. Pembahasan mengenai visa ini bisa dilihat di web resmi pemerintah maupun para blogger lain yang mencurahkan banyak waktunya untuk berbagi pengalaman. Dalam tulisan kali ini saya tidak akan membahas banyak mengenai visanya, namun yang lebih ditekankan adalah hikmah yang bisa diambil setelah perjalanan panjang yang saya lalui dari bulan September.

Memang kita tidak boleh rakus dalam dunia ini, Alloh memberikan dua pilihan di bulan September untuk mendaftar WHV atau LPDP dan dua-duanya saya ambil. Interview  WHV diadakan 26 Oktober di Bali dan LPDP 9 November di Jakarta. Pengumumannya pun selisih 6 hari, jadi Alloh hanya memberikan saya satu pilihan terbaik yaitu berangkat dulu ke Australia. Ini menjadi obat yang mungkin lebih indah dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Visa saya granted pada tanggal 11 januari dan menjadi kado indah di usia 22 tahun saya esok harinya, Alhamdulillah lagi-lagi kejutan luar biasa yang Alloh berikan. Saya memutuskan untuk berangkat pada tanggal 15 dari kota kelahiran, diantar Mamah dan Bapak. Saya habiskan waktu seharian bersama mereka selama perjalanan hingga akhirnya mereka harus melepas anak gadisnya pergi bada Ashar. Pesawat saya transit Bali dan penerbangan dari Bali jam 1 dini hari, tengah malam keluyuran di bandara, belum makan dan seperti anak kecil yang sedang mencari orang tuanya. Karena badan saya kecil dan kadang terlihat lugu, banyak yang mengira saya anak SMP.

Dan lagi-lagi yang paling saya suka adalah saat terbitnya matahari, gelisah dan tidak bisa tidur di pesawat(karena lapar dan sedang halangan hari kedua yang sakit perutnya kaya orang mau lahiran’katanya’) membuat saya fokus memandang arah luar saat matahari terbit sedikit demi sedikit perlahan menampakan dirinya. Kekuasaan Alloh yang luar biasa, entah saat itu saya sedang ada di atas lautan mana, namun indahnya matahari begitu mengingatkan kekuasaan Alloh yang amat sangat besar. Terkadang diri malu karena sombong, tapi apa yang pantas disombongkan dari manusia seperti kita?

Ya Robb…
Hamba begitu bersyukur atas karunia yang telah Engkau berikan
Hamba sadar, Engkau lebih mengetahui yang hamba butuhkan dan Engkau penyusun skenario terbaik
Engkau penggenggam jiwa setiap manusia, berikanlah selalu kelapangan hati pada kami dalam menerima segala ketentuanMu
Engkau yang Maha Besar dan Maha Segalanya
Lindungilah kami dimanapun kami berada

Jadikanlah cinta kepadaMu sebagai cinta terbesar kami...

0 Kegagalan LPDP bukan akhir segalanya

Alhamdulillah, akhirnya mengawali tulisan di tahun 2016, meskipun sudah telat tapi tidak ada salahnya artikel ini saya buat untuk menambah informasi bagi teman-teman semua mengenai kegagalan dalam seleksi LPDP. Tepat pada tanggal 10 Desember saya menerima email pengumuman ketidaklulusan, yang sebelumnya tanggal ini saya nantikan hampir satu bulan.

Email dari LPDP
Berita mengenai email yang sudah dikirim aya dapatkan dari group Whatsapp yang saya buat dengan sepuluh orang teman yang tergabung pada LGD di UNJ, Ahamdulillah hingga saat ini masih berkomunikasi dengan mereka. Diantara ke-sepuluh orang tersebut hanya saya yang tidak lulus. Teman-teman saya semuanya luar biasa, banyak pelajaran yang bias saya ambil dari para senior. Sudah masuk seleksi substansi saja saya sudah banyak bersyukur, karena bisa menjadi satu dari seribuan orang yang lolos pada periode tersebut.

LPDP adalah harapan saya untuk bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, namun berhubung Universitas yang saya tuju tidak termasuk dalam daftar, jadi akhirnya saya banting stir ke jurusan Young Professional MBA ITB. Memang dari awal saya “niat tidak niat” mendaftar karena IELTS mentok di angka 6 yang mengharuskan saya daftar dalam negeri namun keinginan kuliah tetap di luar negeri. Sekitar dua bulan saya menyiapkan persyaratan serta mempelajari bidang ekonomi dan bisnis sebagai bekal wawancara dan untuk menambah wawasan pada essay yang saya buat. Saya ucapkan terimakasih banyak juga pada rekan baik saya yang bersedia mengoreksi kata demi kata yang terdapat pada essay, memberikan banyak masukan untuk semua persyaratan serta memberikan simulasi dan gambaran untuk seleksi substansi.

Hari demi hari saya persiapkan dengan baik hingga pada awal November, tepatnya tanggal 9 saya mendapatkan jadwal seleksi selanjutnya. Kesan pertama bertemu dengan peserta seleksi adalah “WoW bingits”, saya seolah seperti butiran pasir diantara mutiara. Teman-teman saya hampir semuanya senior dengan segudang prestasi dan pengalaman, sementara saya hanya fresh graduate dengan minim pengalaman dan prestasi ditambah dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan, juga bukan lulusan dari Universitas Negeri yang mencoba mengadu nasib dalam LPDP, berbekal semangat membara dan kepercayaan diri yang ditanamkan dari awal akhirnya bisa membaur dengan mereka. Satu hari saya habiskan di UNJ dan benar-benar membuka wawasan terhadap negeri.

Pada akhirnya, kebersamaan saya bersama orang-orang hebat belum bisa dilanjutkan pada tahap berikutnya karena kegagalan seleksi ini. Namun, pengalaman luar biasa indah ini mengajarkan saya untuk bisa berlapang dada serta mengukur diri, meskipun respon saya saat membaca email langsung menangis, namun adik saya ada disamping saya dan memberikan pelukan, lalu bilang, “Teteh ga boleh nangis, kan tahun depan masih bisa daftar. Waktu teteh masih banyak, teteh masih banyak kesempatan.” Saya kaget dengan kalimat yang terucap dari anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas satu SMP itu. Iya, saat itu saya masih 21 tahun, masih banyak waktu untuk terus belajar.

Hari demi hari saya melihat group Whatsapp yang penuh dengan percakapan teman-teman membahas mengenai PK membuat saya sedikit iri, namun Alhamdulillah waktu berjalan menjadi obat terbaik dan lapang dada menerima semua ketentuan Alloh adalah solusi, Alhamdulillah Alloh selalu menguatkan hati ini. Beberapa hari kemudian saya mendapatkan berita bahwa di 2016, awardee Program Dalam Negeri sudah tidak bisa pindah ke Luar Negeri dan saya bersyukur karena jikapun saya diterima di LPDP, rencana saya dari ITB pindah ke University of Surrey tidak akan berjalan. Memang ini skenario terbaik yang Alloh berikan, saya diberikan kesempatan untuk menambah banyak pengalaman agar pola fikir ini bisa lebih dewasa, tidak seperti fresh graduate pada umumnya.


Note: Perkiraan kegagalan saya ada pada wawancara yang ditanyakan mengenai pengalaman saya yang masih minim serta jurusan yang saya ambil dari pariwisata ke ekonomi.

Jurusan pariwisata tidak ada dalam daftar pilihan, mau tidak mau harus dilanjutkan di luar negeri karena saya lulusan DIV yang tidak bisa lanjut ke jurusan Kajian Pariwisata UGM, Ekowisata IPB, satu-satunya jalan ada di Kepariwisataan ITB namun akreditasnya masih B karena jurusan baru.

Doakan saya ya teman-teman, agar bisa improve IELTS dan mendaftar pada kesempatan terakhir, semoga Alloh ridho....

Thursday, November 26, 2015

0 Cara Membuat Surat Keterangan Bebas Narkoba dan Bebas TB LPDP

Hari-hari yang cukup menyita waktu saat memutuskan diri untuk mendaftar Beasiswa LPDP, tulisan kali ini bukan untuk membahas mengenai beasiswanya namun lebih memberikan informasi mengenai pembuatan Surat Keterangan Bebas TB dan Surat Keterangan Bebas Narkoba dari rumah sakit pemerintah yang merupakan salah satu persyaratan baru dalam LPDP. Berdasarkan pengalaman pribadi yang sedikit bingung untuk membuat dua surat sakti ini, serta minimnya informasi yang ada di internet menyebabkan saya berinisiatif membahasnya.

Penampakan kedua surat sakti
Baiklah tanpa banyak basa-basi, yang pertama harus diperhatikan adalah menentukan Rumah Sakit mana yang akan dituju dan pastikan kondisi kita memang sedang fit, ga lucu kan kita berencana minta surat keterangan sehat tapi kondisi badannya sendiri sedang sakit. Kedua surat ini bisa langsung dibuat dalam waktu yang bersamaan (maksudnya dihari yang sama), kebetulan saya membuatnya di RSUD 45 Kuningan, Jawa Barat. Hal pertama yang membuat saya kaget adalah saat melihat bangunan rumah sakit yang sudah berubah berapa ratus derajat, karena terakhir saya kesini entah tahun berapa dan memang penataan ruangannya sudah lebih baik lagi sehingga bingung mencari lokasi registrasinya. Yang menjadi kunci utama dalam pembuatan surat ini adalah mendatangi meja registrasi yang sudah dipenuhi banyak pasien, karena saya pasien normal (bukan pengguna BPJS) maka meja antreanpun tidak begitu panjang. Saat ditanya mau ke poli mana, jawab saja mau membuat dua surat tersebut dan akhirnya diarahkan pada poli paru untuk surat bebas TB dan ke Lab untuk surat bebas narkoba.

Surat Keterangan Bebas TB

Di poli ini kita akan dipertemukan dengan banyak pasien yang sudah berusia senja(lah ko senja). Sepagi apa saya datang ke rumah sakit, tetap saja ada yang lebih pagi dari saya yang tiba di sekitar jam 8 kurang. Lumayan lah karena sudah terbiasa menunggu, akhirnya saya menikmati aktivitas sambil memperhatikan orang-orang sekitar. Dan akhirnya nama saya dipanggil untuk masuk ruangan dan saya sudah pegang KIR dokternya dengan diisi sendiri(males banget si petugasnya sampe harus pasien yang isi), lalu di periksa darah serta berat badan(anggap saja timbangan rumah sakit sedang rusak, karena 4hari lalu saya timbang di apotek BB saya 45, tapi timbangan rumah sakit menunjukan di angka 48), dan diarahkan untuk kebagian rontgen dan Lab.

Apa yang dilakukan di ruang Rontgen?
Setelah mendapat surat rujukan dan harus membayar di kasir, datanglah saya ke bagian rontgen untuk foto cantik. Prosenya tidak lama, tapi antrenya yang lumayan lama. Rontgen ini namanya Thorax yang bertujuan untuk mengetahui keadaan paru-paru lebih dalam. Foto yang memakan waktu kurang dari satu menit ini bisa diambil hasil akhirnya sekitar tiga hari kerja, namun hasil sementara bisa dipinjam untuk memastikan ke dokter paru secara garis besarnya saja. Menunggu kurang lebih satu jam untuk mendapatkan hasil sementara dan saya balik lagi ke dokter paru.

Apa yang dilakukan di Lab?
Selain rontgen, saya juga diharuskan periksa dahak yang terbagi menjadi tiga wadah, dahak hari ini, besok pagi saat baru bangun dan jam 8 pagi sebelum mengantarkan ke rumah sakit. Dahak yang saya hasilkan hanya sedikit karena memang sedang tidak batuk. Oya, di Lab ini kita antre beberapa kali, pertama untuk dipanggil dan mendapatkan kwitansi yang harus dibayar di kasir, kedua setelah dari kasir menunggu antrean perintah dokternya, ketiga menyerahkan hasil yang sudah terisi. Jadi untuk mengurus dahak, esok harinya saya harus balik lagi ke Lab untuk memberikan dua hasil dahak selanjutnya.

Setelah keduanya terkumpul?
Ya, di hari itu setelah mengikuti perintah, saya balik lagi ke poli paru untuk laporan dan memberikan hasil rontgen sementara. Saya betul-betul kaget saat dokter membaca hasil rontgen itu bahwa dibagian tulang saya ada sedikit sumbatan air, ah entahlah saya tidak paham karena saya tidak pernah merasakan keluhan apapun selama ini. Inilah salah satu hal yang membuat saya malas ke dokter, karena pada akhirnya saya kefikiran ucapan dokter, lebih baik saya tidak tahu apa-apa daripada kedepannya hari-hari saya dihantui dengan rasa cemas. Yasudah, setelah beres laporan, saya diharuskan menebus obat(sebetulnya bukan obat, semacam antibiotik) di apotek tempatnya beliau buka praktek. Hasil surat keterangan ini bisa saya dapatkan saat hasil rontgen dan dahak sudah selesai, yaitu di hari selasa, karena saya kesana di hari kamis.

Lalu, bagaimana dengan Surat Keterangan Bebas Narkoba?

Lagi-lagi saya harus bolak-balik ke Lab untuk mengikuti prosedur yang seperti sebelumnya saya jalani, yaitu mendapatkan kwitansi, membayar ke kasir dan menunggu lagi untuk diperiksa. Ini satu moment krusial dimana kondisi Lab yang sempit namun pasien yang berjubel membuat ruang gerak sempit dan seperti biasa, karena banyak yang tidak mendapat tempat duduk akhirnya banyak pasien yang berdiri di depan pintu Lab sehingga mengurangi volume suara si Ibu yang memanggil antrean(karena tidak menggunakan speaker). Tiba saatnya giliran saya untuk periksa darah, di ambil sampel darah dan diberi wadah air pipis untuk diperiksa, saya juga diminta KTP untuk mengisi data diri. Semua saya lakukan dengan terpaksa senang hati. Alhamdulillah untuk surat keterangan ini bisa saya terima hasilnya kurang lebih dua jam setelah diperiksa. Dan apa hasilnya? Pastinya saya bebas dari narkoba.

Apa yang dilakukan selanjutnya?
Jam delapan pagi di hari selasa, saya kembali ke rumah sakit dan kembali registrasi untuk ke poli paru (padahal hanya ambil hasil saja, tapi harus tetap registrasi dan bayar Rp.60.000,- lagi), saya ambil hasil rontgen dan langsung menuju poli paru. Lagi-lagi menunggu sekitardua jam karena dokternya belum datang dan saya juga mengambil hasil dahak dari lab. Alhamdulillah setelah proses yang menguras dompet sedemikian panjang, selembar kertas ditandatangani oleh Pak Dokter dan hasilnya saya bebas TB. Kertas ini kecil, ukuran setengahnya dari kertas A4, tapi ya inilah surat sakti yang didapat dengan proses cukup lama.

Berapa biaya yang dikeluarkan?
Saya lupa detailnya berapa, ini kalo gasalah saya ingat-ingat yah perkiraan detailnya, sbb:
  • Registrasi 2x                                       @60.000                =             120.000
  • Rontgen                                                                             =              60.000
  • Periksa dahak                                                                    =               30.000
  • Tebus antibiotic                                                                 =               90.000
  • Surat Ket. Bebas Narkoba                                                 =             185.000
Lain-lain biaya apalagi saya lupa, yang jelas saya menghabiskan sekitar Rp.550.000,- untuk membuat kedua surat sakti ini.

Sedikit saran yang diberikan adalah:
  • Datang sepagi mungkin (bukan berardi bada subuh langsung berangkat ya, hehehe) untuk menghindari antrean panjang
  • Meletakan kesabaran yang tinggi karena prosedur yang cukup ribet dan membiasakan diri menunggu
  • Gunakan alas kaki yang nyaman karena kita akan disuruh kesana-kemari untuk memenuhi maunya dokter
  • Gunakan masker untuk menghindari virus rumah sakit yang bisa bertebaran dimanapun
  • Pastikan ada kuota internet untuk menghindari kebosanan menunggu dengan membuka informasi-informasi penting
  • Harus siap mental, ya namanya juga di rumah sakit pemerintah, wajar saja kita dibentak-bentak petugas, dijutekin dan dibuat seolah menjadi orang yang tidak tahu apa-apa(bukan rahasia umum)
  • Pastikan bawa uang yah
Sekian informasi yangbisa diberikan, mudah-mudahan bermanfaat dan bisa memberikan sedikit gambaran mengenai pembuatan surat ini.


Wednesday, November 25, 2015

0 Belajar IELTS mandiri? BISA (Part 2)

Alhamdulillah masih bisa melanjutkan artikel sebelumnya, meskipun jeda nulis hampir dua bulan tapi gapapa ya, yang penting infonya sampai pada pembaca, sambil harus inget-inget deh pas lagi test nya nih(padahal mengingat masalalu adalah hal yang tidak disukai, ahhahaa).

Okelah dimulai dengan hal yang harus diperhatikan menjelang test IELTS tiba, deg-degan pastinya apalagi kalau kita mendaftar jauh-jauh hari. Kalender yang ada dikamar tentunya penuh dengan lingkaran yang menuju pada hari-H (udah kaya nungguin acara nikahan aja yah). Kebetulan saya mendaftar test di British Council dan Bandung sebagai lokasi testnya, kenapa saya pilih di British Council? Karena saya banyak belajar dari lembaga ini dan sebagai ucapan terimakasih telah menyediakan banyak bahan belajar, termasuk les online gratis (padahal aslinya karena harganya murah dan stabil, tidak seperti tempat lain yang mengikuti Kurs Dollar). Dengan biaya Rp.2.460.000,- kita mendapatkan test yang diadakan di Hotel Grand Serela Bandung, alat tulis, air putih dan tentunya mendapat banyak jodoh teman.

Pada H-1 dan H-2 biarkanlah otak kita dimanjakan dengan hiburan, jangan sampai terus-terusan dibawa belajar, karena yang ada nantinya malah mental. Dan pada saatnya tiba, lakukan hal-hal biasa seperti mandi, sikat gigi, sarapan, dan pakai wewangian(siapa tau bisa menghipnotis pengawas, haha) dan pastikan datang pagi yah, maksimal satu jam sebelum test untuk verivikasi dokumen dan foto. Alhamdulillah, Alloh menghadirkan abang gojek yang ada kapanpun dan dimanapun saat saya butuh, ia mengantarkan sampai depan pintu hotel dan tentunya dengan tariff 10ribu saja, yang saya dapat bukan hanya layanan antar, namun juga mendapatkan doa yang tulus dari si abangnya halah apaan si.

Untuk menghindari rasa deg-degan dan melatih rongga mulut kita agar terus bergerak, tidak ada salahnya untuk memulai percakapan dengan peserta yang lain. Memang si, kondisi saat itu ada yang sibuk dengan buka-buka buku, ada yang wajahnya penuh harap dan cemas, ada juga yang pura-pura sibuk buka hp padahal ga ada sms/wa/pesan lainnya(maksudnya saya). Akhirnya saya buka obrolan dengan mereka, eh ternyata gara-gara ngobrol gini sempat nyali saya rada ciut, karena mereka orang-orang kece, ada ibu dosen B.Inggris, Bapak Guru B.Inggris, anak Magister yang ambil kursus berkali-kali, huffffttt akumah apa atuh, Cuma anak si Mamah sama si Bapa yang paling syantiq. Anggap saja obrolan dengan mereka adalah pelecut semangat, bukan untuk mengendurkan niat. Dengdeeeng, tiba saatnya isi buku registrasi dan foto, disini saya seperti menjadi orang paling malu deh, pas mau ambil foto, dengan PD-nya saya membuka bibir selebar mungkin dan memasang senyum tercantik, namun apalah daya, harapannya si bisa menyihir para pemberi nilai eh nyatanya saya malah diomelin, “Mbak maaf, gaboleh senyum ya, wajahnya biasa aja.” Duh, perasaan seketika itu hancur lebur dan malu, hahahahaha.

Dilanjut pada saat test yah, di ruangan besar yang berisi sekitar 60 orang yang tidak diperbolehkan membawa apapun(asal bawa diri dan niat), termasuk tidak boleh menggunakan jam tangan, padahal pada saat latihan biasanya saya pakai jam tangan untuk mengukur waktu dan mengira-ngiranya, tapi aturan tidak boleh dilanggar. Hampir tiga jam dalam ruangan Alhamdulillah semua berjalan lancar dan meskipun saya menghindari menyentuh air minum, tetap saja hasrat ingin pipis selalu ada. Mau tidak mau harus ditahan, bisa saja keluar tapi dengan resiko waktu kita berkurang untuk mengerjakan soal. Akhirnya, waktu menunjukan tepat jam 12 siang dan speaking test saya mendapat giliran jam 6.20pm, lumayan lah waktu yang cukup panjang untuk menghela nafas dan melupakan apa yang telah terjadi. Bisa dibayangkan, setelah maghrib adalah jam genting dimana biasanya anak muda sudah keluar rumah untuk malam mingguan namun saya harus berjibaku dengan si abah bule, kurang lebih 15 menit test nya, ditambah beberpa menit ada obrolan kosong dengan beliau, dan tadaaaaaaaa akhirnya hari ini dilalui dengan indah, finally I’m breathing freely. Hahaha.

Jadi sekiranya tips simple yang bisa saya berikan adalah:

“Jangan menganggap IELTS suatu test yang mahal dan mengerikan, karena itu akan menjadi beban tersendiri sekiranya gagal mendapat nilai yang diinginkan. Anggap saja IELTS itu bagian dari proses belajar, jadi sekalipun kita gagal, masih ada kesempatan lain yang bisa digunakan dan semoga kita diberikan rezeki yang lain untuk mengambil test dilain waktu dengan persiapan dan pengalaman yang lebih matang, karena lagi-lagi proses adalah hal yang paling penting.” (so bijak)


Oya mungkin ada beberpa yang bertanya, jadi intinya dapet overall score berapa? Jawab saja, Alhamdulillah pas-pasan dan masih harus ditingkatkan lagi. Tapi setidaknya dengan hasil yang didapat dengan belajar sendiri dari nol sudah bisa membuat saya banyak bersyukur, Alhamdulillah dengan nilai ini saya bisa mendapatkan Unconditional LoA. Hingga saat ini dan detik ini, saya masih harus belajar banyak dan terus mencintai IELTS, tapi sebesar apapun saya menjatuh cintakan diri pada IELTS, tidak akan mengurangi rasa cinta ini ke kamu, karena IELTS adalah media dari Alloh yang telah menyatukan kita #eeeeeaaaaaaaaa……. Sekian ya sahabat, sampai ketemu di tulisan berikutnya.



Thursday, September 24, 2015

0 Belajar IELTS mandiri? BISA (Part 1)

Tulisan ini adalah jawaban nazar saya setelah berbulan-bulan menggeluti dan berjibaku dengan IELTS, akhirnya setelah menerima hasilnya di tangan, saatnnya mengevaluasi diri dan sedikit berbagi kepada sahabat mengenai pengalaman ini. Semakin kesini, IELTS semakin menjadi primadona bagi mereka yang ingin meraih mimpinya ke luar negeri, terutama ke Eropa atau Australia yang mengedepankan test ini sebagai ukuran kemampuan bahasa Inggris seseorang, baik untuk melanjutkan sekolah, berkarier professional atau untuk pindah kewarganegaraan. Dalam tulisan ini saya tidak akan banyak membahas mengenai mekanismenya, namun misi saya dalam coretan kali ini untuk mendorong sahabat semua agar tidak ragu mengambil test IELTS tanpa memikirkan besarnya biaya untuk kursus persiapan khususnya bagi kalian yang mempunyai bahasa Inggris pas-pasan seperti saya.

Kertas Cambridge 1-9, kalender dan booklet
Ingin keluar negeri tapi ga suka bahasa Inggris? Ya harus suka! Ingin sekolah di negara berbahasa Ibu bahasa Inggris tapi baru mau belajar bahasanya sekarang? Ya belajar! Mau ke Inggris tapi ngomongnya aja belum bisa? Yaudah belajar dulu sana ke kampung Inggris, hehehe. Ya pilihan tepat bagi sahabat yang ingin mengasah kemampuan dari nol, dengan pondasi utamanya yaitu mencintai bahasa Inggris, karena kalau sudah cinta ya apapun akan dilakukan. Hal ini pula yang mengantarkan saya akhirnya mau tidak mau belajar grammar dari bada subuh sampai menjelang magrib sebulan penuh. Karena jujur, di masa lalu saya sangat benci dengan bahasa Inggris namun kebencian ini menjadikan suka yang cukup dalam (benar ungkapan benci jadi cinta, jangan terlalu besar membenci nanti ujungnya melabuhkan cinta yang dalam). Ahhh sudah skip dulu bahas cintanya.

Bagi saya pribadi, IELTS adalah test yang berperikemanusiaan dan betul-betul memaksa kita untuk belajar banyak hal, belajar artinya ketulusan, kesabaran, keikhlasan, memahami satu sama lain, mengontrol emosi, fokus pada tujuan, tidak pantang menyerah, belajar saling menyayangi. Bagi mereka yang memang sudah mempunyai basic bahasa Inggris yang kuat akan lebih mudah dibanding dengan yang baru belajar seperti saya. Guru saya bilang, untuk belajar memahami bahasa, butuh waktu sekitar 6 bulan. Saya belajar bahasa Inggris secara konsisten di bulan Januari 2015, berkenalan dengan IELTS bulan Maret dan test nya di akhir Agustus. Dikatakan singkat? Tidak juga. Ini periode yang lama dan membosankan. Namun demi tercapainya cita-cita ya harus mengorbankan banyak hal, toh yang dikorbankan juga manfaatnya sangat banyak. Baiklah, dibawah ini saya ceritakan pengalaman dibagi dari segi waktunya:

Januari-Mei 2015

Sekitar 4,5 bulan saya mulai mencintai bahasa Inggris dengan belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri. Yang niat awalnya hanya 2 bulan disini dan untuk persiapan Toefl ITP, akhirnya melenceng pada IELTS, kenapa? Karena lingkungan dan wawasan yang merubah pola fikir. Bulan pertama saya digembleng dengan grammar, bisa dinobatkan sebagai siswi ter-rajin karena tekad saya tidak boleh bolos, sekalipun pertemuan sehari adalah 5x dengan durasi 1,5 jam dari jam 5.30am-5.30pm, bisa kebayang kan jenuhnya seperti apa? Bulan kedua saya lebih banyak belajar sendiri dengan mendalami materi-materi yang sudah dipelajari serta mengambil speaking dan pronunciation class untuk mengasah kemampuan berbicara saya yang ada di salah satu komponen test IELTS. Beruntung saya tinggal di Camp yang dibangun atas dasar kekeluargaan, belajar jauh dari orang tua ya rasanya belajar seperti di rumah, pagi-pagi bisa masak, siang buat cemilan, sore atau malam lanjut masak. (Karena kebutuhan saya bukan hanya persiapan bahasa Inggris yang matang, melainkan juga persiapan menjadi seorang Ibu rumah tangga, hahaha). Bulan ketiga saya mengambil kelas academic writing, namun kurang efektif karena kelasnya penuh sesak dengan udara yang kurang di ruangan itu, ditambah lagi dengan jam belajar di siang hari bolong jam 2.30pm dan selepas Maghrib, alhasil saya sering bolos dan lebih mendalami aktivitas memasak di camp, terimakasih FASTER ENGLISH. Bulan keempat di minggu kedua saya mengambil salah satu kelas IELTS preparation dengan durasi kelasnya 6 jam perhari(per dua minggu). Hasilnya? Lumayan lah buat nambah temen. Bulan terakhir saatnya LIBURAN……naik-naik ke puncak gunung……

Mei-Agustus 2015

Saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan segala perbekalan materi yang dirasa cukup, karena saya tipe orang yang ternyata lebih fokus tanpa banyak gangguan dari luar. Belajar sendiri dengan metode yang saya buat, rencana belajar yang jelas dan materi yang sesuai dengan kebutuhan. Berbekal hasil print buku cambrige 1-9, yang setiap bukunya terdiri dari 4 test dan sudah dilengkapi audionya untuk listening. Alhamdulillah ini sangat membantu, karena saya tidak satupun membeli buku(seperti banyak rekomendasi bukunya Barron’s). Yang saya butuhkan saat itu adalah memperbanyak latihan, karena dengan membiasakan diri mengikuti prosedur real test, nantinya tidak akan kaget dan sudah terbiasa. IELTS bukan sekedar menguasai bahasa dan teori, hal penting lain yang harus diperhatikan adalah pengelolaan waktu dan emosi. Berikut saya jabarkan tips untuk menyelesaikan 9 buku Cambridge secara mandiri ya:
  • 1 buku Cambridge dihabiskan dalam 10 hari, jadi setiap 2 hari sekali saya harus menyelesaikan 1 test. Bisa digunakan untuk mengerjakan soal dan juga evaluasinya. Jika 2x4=8, maka dalam periode tersebut saya mempunyai waktu libur 2 hari, setidaknya untuk menghela nafas atau sekedar sepedahan di belakang rumah.
  • Dalam 1 hari harus komitmen minimal 5 jam belajar, jika sedang rajin-rajinnya, bisa sampai 10 jam loh, karena mood yang sedang bagus perlu dimanfaatkan. 5 jam yang dimaksud dipecah menjadi beberapa bagian, tergantung kondisi otak dan kondisi hati tentunya.
  • Kadang, jika dalam 1 hari kita tidak bisa belajar mencapai 5 jam, bisa digantikan pada hari libur (dicicil seperti bayar hutang). Kondisi belajar yang terus-menerus bukannya membebani, malah semakin memotivasi diri sendiri. Saking lebaynya, sehari tanpa belajar rasanya ada yang kurang, semacam kecanduan belajar.
  • Semua buku Cambridge tentunya dalam bentuk hasil print agar mudah dicoret-coret. Saat sudah mencapai cambrige 7,8,9, saya membiasakan diri mengisi jawaban di lembar jawaban IELTS dengan penggunaan waktu yang disamakan. Pagi hari jam 9 pas, saya sudah harus nongkrong depan laptop selama 3 jam non-stop, kunci kamar agar tidak ada gangguan.

Sedikit gambaran diatas untuk menyelesaikan buku yang membuat kepala kelimpungan. Adapun tips-tips simple ala “Riska” untuk memudahkan mempelajari setiap komponen IELTSnya, sbb:
  • Listening, adalah test pertama kali dengan memakan waktu sekitar 30 menit untuk mendengarkan dan 10 menit untuk memindahkan jawaban. Sebagian besar yang digunakan dalam percakapan IELTS adalah british accent ditambah dengan Australian accent. Sekali lagi saya beruntung sekali pernah tinggal di FASTER ENGLISH Pare yang teachernya mengajarkan saya accent ini dan setiap listening dan film yang diberikan beraccent british. Saya juga sering membuka web belajar dari British Council, lengkap selengkap-lengkapnya mengenai banyak hal tentang Listening IELTS berikut dengan contoh soal, jawaban dan audionya bisa di download secara Cuma-Cuma. Dalam latihan, biasanya evaluasi yang saya lakukan yaitu melihat skrip sambil mendengarkan soal, karena cepatnya percakapan terkadang kita kehilangan konsentrasi dan kata-kata.
  • Reading, adalah hal yang membuat saya ngantuk. Tapi, reading di IELTS ini membuat penasaran karena kosa kata yang digunakan kebanyakannya synonym. Jadi cara yang biasa saya gunakan yaitu menandai kata-kata yang sulit di passage soal cambrige, lalu diterjemahkan satu persatu. Hal ini memakan waktu yang lama, karena bukan hanya menerjemahkannya tapi harus memahaminya. Metode hafalan vocabulary perlu dihindarkan, karena ini hanya membuat kita ingat saat itu saja, yang lebih penting adalah pemahaman dan penerapannya pada kalimat lain. Evaluasi pada soal Cambridge di setiap jenis soal reading juga perlu diperhatikan, setelah kita menyelesaikan soal (untuk latihan biasa, 20 menit untuk 1 passage. Saat itu juga langsung diperiksa dan di analisis jawabannya, dengan menganalisis secara detail kita secara tidak sadar banyak belajar dan tentunya perlu spidol warna-warni untuk menggaris bawahi jawaban yang berbeda. Untuk simulasi real test ya harus menyelesaikannya dalam 1 jam untuk 3 passages).
  • Writing, untuk komponen ini kita perlu memadukan kemampuan berfikir kritis dalam menanggapi soal, menulis dengan tekanan waktu dan pintar membaca soal. Tugas utamanya adalah memahami setiap soal baik dari task 1 maupun task 2. Butuh waktu yang cukup lama agar kita bisa menguasai semuanya, dalam task 1 saja terbagi beberapa jenis soal yang tentunya penanggapannya juga berbeda, meskipun hanya 30% penilaiannya, tapi kita juga perlu memberikan perhatian pada task ini. Ditambah lagi perlu banyaknya pengetahuan mengenai kata-kata yang biasa digunakan untuk bridge, connector, ah pokoknya banyak deh, juga perlu penguasaan vocab yang berbeda. Tapi ya jangan terlalu difikirkan, jalani saja yang ada yang kita bisa. Yang penting mah soalnya keisi, nyambung dan waktu mengerjakannya cukup. Untuk task 2, lagi-lagi jenis soal harus kita ketahui semuanya. Mudah-mudahan di artikel lain bisa saya spesifikasikan ya, materinya saya dapat dari kursus online British Council.
  • Speaking, part terakhir yang paling singkat waktunya. Bagi para extrovert, bukan hal yang sulit saat harus ngobrol dengan orang yang baru dikenal, apalagi orang asing. Tapi bagi orang pendiam, membangun suasana untuk 2 orang di ruangan sepertinya agak sulit, sekalipun kita punya pengetahuan luas untuk menjawab soal, namun cara penyampaian kita yang kurang menarik akan membawa test ini menjadi kaku. Lakukan saja senatural mungkin, mau berbohong juga gapapa karena penilaiannya bukan terletak pada seberapa berbobotnya pengetahuan yang kita miliki.

Duh tidak terasa sudah 3 lembar di ms.word saya, terlalu panjang…. Disambung di artikel selanjutnya ya mengenai pengalaman test dan juga tips lain untuk belajar mandiri.

Pengunjung Blog Saya

 

Coretan Riska Anjarsari Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates