Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, September 22, 2017

0 Drama "Hajatan dan Kondangan"

Setelah 8 bulan tidak menulis disini, akhirnya sekarang ada kesempatan untuk menuangkan isi fikiran yang sudah lama ada di kepala. Dilihat dari judulnya, bahasan ini memang kerap terjadi dalam kehidupan sosial kita, terutama saya yang lahir dan tumbuh di desa kecil. Coretan kecil ini dibuat sebagai curahan hati saya serta unek-unek yang mengganjal hati dari sudut pandang saya pribadi, berdasarkan pengalaman dan hal-hal yang terjadi di sekitar, bukan untuk memojokan orang lain atau mengomentari suatu pihak, namun ini adalah gambaran secara umum yang memang banyak orang rasakan.

It doesn't have to bi big, small is beautiful

Resepsi pernikahan atau yang lebih kita kenal dengan hajatan bisa mengandug dampak positif dan negatif bagi pendengarnya. Satu sisi, saat seeorang mendengar kata hajatan, yang ada dalam fikirannya adalah acara syukuran, kebahagiaan, berkumpul, menyantap hidangan, namun disisi lain, bagi orang yang sedang dalam keadaan pas-pasan, mendegar seseorang akan menggelar hajatan adalah “stress” karena pada saat itu ia sedang tidak punya uang lebih untuk datang ke acara tersebut.
Pembukaan diatas hanyalah setitik tinta dalam sebuah kertas kosong yang berarti masih banyak tempat untuk mengisi kekosongan tersebut, dibawah ini saya akan menguraikan beberapa hal lain untuk melengkapi kertas tersebut menjadi selembar kertas yang penuh tinta, hehe...

Hajatan itu sekali seumur hidup

Itu adalah kalimat yang sering terucap oleh tukang rias saat menawarkan jasanya kepada “customer” agar mereka membeli paket terbaik yang disediakan. Dengan alasan ini, maka si pengantin harus terlihat paling menonjol dan menjadi pusat perhatian banyak orang, ditambah dengan dekorasi yang bagus atau bahkan mewah serta hidangan makanan yang super nikmat, juga dengan cenderamata yang khas dengan tulisan kedua mempelai, serta pajangan foto-foto pre-wedding yang menghiasi setiap sudut acara, sang pengantinpun rela menjama’ shalatnya karena si tukang rias bilang “kalau wudhu nanti bedaknya luntur”, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain, dibalik itu semua, haruslah ada biaya yang tak sedikit yang disediakan oleh kedua mempelai.

Pinjam uang di hajatan

Dalam kehidupan masyarakat kita pada umunya, tak sedikit yang harus meminjam uang untuk menutupi biaya hajatan, dengan harapan, setelah terselenggaranya acara tersebut, mereka bisa mengembalikan hutangnya. Demi memenuhi gaya hidup, tuntutan pernikahan yang diidamkan, juga menutup gengsi di lingkungannya, banyak orang tua yang rela menjual apa yang mereka punya dan meminjam uang sebagai tanda kasih sayang untuk anaknya. Kalau difikir, mau sampai kapan anak terus merepotkan orang tua dimulai sebelum lahir ke dunia hingga entah kapan akhirnya. Yang saya rasakan, mereka senang merepotkan diri da itulah yang telah mereka pilih.

Hajatan menutup jalan

Pada hari saat acara berlangsung, bagi mereka yang mempunyai budget besar, mungkin akan memilih menyewa gedung dan menyerahkan acaranya kepada wedding organizer untuk mengurangi kerepotan, namun bagi masyarakat di desa yang rumahnya ada di sekitar jalan, mereka akan memanfaatkan jalan sebagai lokasi penyimpanan kursi tamu untuk prasmanan dan panggung dangdut sebagai hiburan. Yang dibutuhkan adalah, membayar pada pihak tertentu untuk menutup jalan dan petugas kemanan sekitar. Sungguh, hal ini amat sangat menyebalkan. Saya sebagai korban yang pernah mengalami ini menggerutu dalam hati:”Kok ya orang tega mementingkan kepentingan sendiri, padahal ini jalan umum, tapi malah ditutup hanya demi mensukseskan acara mereka, jadi nyusahin banyak orang yang harus putar balik cari jalan alternatif, hufffftttt.”

Hajatan sebagai wadah transaksi harus dikembalikan

Pernah gak kalian atau orang tua kalian mengintip daftar catatan hutang kondangan untuk kembali dibayarkan kepada si penyelenggara hajat? Itu yang terjadi pada ibu saya sendiri, hhmmm. Ini mungkin hal yang lumrah bagi sebagian besar ibu-ibu, jadi mereka akan mengembalikan sejumlah uang yang telah diterima pada saat menjadi penyelenggara (itung-itung bayar hutang) atau jika zamannya sudah berubah, maka uang tersebut akan dinaikan nominalnya, namun jika kita belum pernah terhutangi anggap saja ini sebagai tabungan jika suatu saat akan hajatan, makan uang tersebut dipercaya akan kembali, hahaha. Itulah prinsipnya.

Giliran gak kondangan, diomongin!

Pada acara reuni setelah lebaran kemarin, saya duduk disebelah teman yang sudah menyelenggarakan hajatan dalam waktu yang cukup berdekatan, lalu tanpa disengaja saya mendengar mereka bercerita tentang (Dalam bahasa sunda yang sudah di translate)  :”Eh si A kemarin datang ga ke hajatan kamu? Kok dia ga datang yah, padahal kan kita kenal baik.” Dijawab:”iya ih gak datang, nanti kalau dia hajatan, aku gak usah datang deh, kan gak ada hutang.” Dalam benak saya, sekeras inikah kehidupan setelah menjadi ibu-ibu? Jadi benarkah hajatan hanya ajang untuk menabung dan bayar hutang? Bukan lagi sebagai ajang silaturahim dan saling mendoakan. Kita tidak pernah tahu apa alasan seseorang tidak bisa menghadiri hajatan, bisa karena saat itu ia sedang tidak ada disana, bisa jadi memang sedang tidak ada rezeki untuk pergi, atau alasan lain yang memang tidak kita ketahui. Sudah sampai sanakah fikiran kita? Atau berharap kedatangan tamu hanya untuk amplopnya saja? Dan lucunya lagi, saat saya sampai rumah, dan menanyakan kepada Ibu saya: “Mah, Neng kondangan gak ke si ‘itu’?”. Dan dijawab:” Pas si ‘itu’ hajatan, Nenek meninggal, jadi Mamah boro-boro kefikiran kondangan, Mamah nginep di rumah nenek beberapa malam.” Heloooohhhh??? Apakah yang mereka maksud merka adalah saya yang kondisinya sedang di Australia, hahahahaha. Hal menggelitik lain pada saat saya mengendarai motor, teman saya yang dibonceng bilang:”Neng jangan jalan kesana, itu di depan ada teman SMA saya, kemarin saya gak kondangan, malu. Lewat jalan lain saja.” Yang disimpulkan dari sini, Jangan sampai tidak kondangan=putus tali silaturahim.

Balik modal dari kotak hajat

Setelah acara berlangsung, mungkin si pengantin akan sibuk dengan dunianya sebagai penanti baru, namun bagi orang tua, mereka akan sibuk membuka amplop yang ada di kotak. Mencatat semua uang masuk dan siap mengeposkan uang-uang tersebut untuk menutupi pengeluaran belanja dapur atau sewa sound system, dll. Harapannya adalah, uang yang didapat semoga bisa menutupi semua pengeluaran dan bisa membayar semua hutang. Jika ada lebih, bisa untuk anaknya bulan madu. Tapi ironisnya, jika harapan tak sesuai kenyataan, boro-boro balik modal, malah harus nombok! Yang harus dilakukan adalah, kehidupan awal si pengantin akan lebih keras karena harus mecicil semua hutang, boro-boro buat nyicil rumah atau ngontrak, tinggal saja masih harus numpang dengan orang tua.

Coretan diatas sepertinya tidak akan berlaku bagi orang-orang kaya. Itu mungki hanya terjadi di kehidupan masyarakat menengah kebawah. Hal-hal diatas bisa jadi karena didasari oleh kebiasaan masyarakat yang hingga saat ini masih menempel meskipun zaman sudah secanggih ini. Banyak hal yang bisa dipetik, teruatama bagi saya pribadi yang dari dulu tidak pernah mendambakan memiliki pernikahan yang mewah, merepotkan banyak orang atau bahkan menyakiti hati orang yang sebetulnya tidak bisa datang terkendala biaya, semua hal yang nantinya akan berujung pada kata mubadzir, saya hanya mengahrap keridha-an Sang Pencipta, namun yang ada dalam fikiran saya belum tentu bisa diterima oleh orang-orang sekitar. Disaat seseorang mengadakan acara sederhana, dikiranya “hamil duluan.” Semua kembali kepada niat setiap orang, jika acara tersebut diniatkan untuk bersedekah, semoga hatinya bersih tanpa mengharap orang memberikan sesuatu, semoga  bisa tepat memberikan sedekah tersebut, bukan hanya orang-orang mampu saja yang merasaknnya, tapi orang diluar sana yang sebetulnya lebih membutuhkan bisa tersalurkan sedekahnya.


Disinilah pentingnya pendidikan untuk bisa memahami satu sama lain. Pentingnya kita berfikir jauh kedepan dan mengukur kemampuan diri dengan tidak memaksakan kehendak. Pada dasarnya, agama Islam selalu memudahkan urusan umatnya, kadang “adat” lah yang meribetkannya. Semoga Alloh senantiasa memberikan kita kemudahan untuk terus berada dalam koridor Islam yang semestinya.

Tuesday, June 14, 2016

0 Kurang Bersyukur

Alhamdulillah… Alloh masih memberikan kesempatan untuk menapaki diri di bulan yang suci ini, Bulan Ramadhan yang ditunggu-tunggu umat muslim dibelahan dunia manapun, termasuk saya yang sekarang tinggal di kota kecil dua jam dari Melbourne. Seperti yang terjadi di tahun-tahun lalu, Ramadhan yang saya hadapi selalu berbeda, baik dari tempat yang ditinggali, lingkungan yang ada disekitar, rutinitas yang dijalani atau bahkan menu buka puasa yang dinikmati. Apapun itu, dimanapun itu, saya yakin ini adalah tempat dan kondisi terbaik yang saya dapat dari Alloh. Lagi-lagi, Ramadhan ini menjadi cambuk bagi saya yang fakir ilmu, miskin pengalaman dan haus akan banyak pelajaran, Alloh telah memberikan banyak waktu luang akhir-akhir ini yang sepatutnya saya gunakan untuk merenung, bukan malah mempertanyakan hal-hal yang tidak seharusnya saya bingungkan.

Yaa Robb… Hamba masih sedang dan akan terus belajar membenahi diri hingga datangnya waktu dimana diri ini sudah harus kembali. Hamba sadar, mulut ini banyak menyakiti, fikiran ini banyak dengki, hati ini amat sangat kotor, jauh dari kata suci, namun Engkau masih menampakkan kebaikan didepan orang lain, malu rasanya. Persangkaan orang terhadap hamba begitu baik, namun pada kenyataannya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala Isi Hati. Ampunilah mulut ini, tangan ini, kaki ini, fikiran ini semua yang ada dalam diri hamba yang tak digunakan semestinya. Hamba selalu meyakini, pintu maaf-Mu terbuka lebar, pintu ampunan-Mu selalu ada bagi hamba-Mu yang mendekati dan menginginkannya.

Pandang langit luas saat bumi sudah menyesakkan hati
Kehidupan disini sedikit banyak sudah merubah pola fikir saya, yang pada awalnya prioritas kesini untuk menuntut ilmu, namun terbelok dengan mengumpulkan uang. Seperti banyak yang percaya bahwa uang seakan menjadi hal utama dalam hidup, tanpa uang rasanya hidup ini hampa, tanpa uang kita tidak bisa apa-apa, tanpa uang ahhh dunia ini begitu menggoda. Dengan pola hidup Negara maju yang mendorong warganya untuk bekerja ditambah dengan penghasilan yang menggiurkan rasanya betul istilah “waktu adalah uang”, karena betul-betul disini satu menitpun uang. Beda halnya dengan di Indonesia yang masyarakatnya lebih santai dalam bekerja karena toh pendapatan dihitung perbulan, masuk ataupun tidak masuk kerja tidak begitu memberikan dampak besar. Disini dengan pekerjaan biasa yang dibilang dibawah standar pendapatan, jika dikalkulasikan kedalam rupiah bisa mencapai satu juta perhari. Dulu semasa kecil, saya pernah berkhayal, “Ah nanti saya kalu dapat sehari sejuta pasti cepat jadi orang kaya.” Dan kenyataannya sekarang terjadi disini, namun sebetulnya bukanlah banyaknya angka yang menjadikan ketenangan dalam hidup ini. Entah apa yang ada dalam fikiran saya sekarang, rasanya sehari tidak bekerja seolah pusing kelimpungan karena kehilangan dollar, Astagfirullohaladzim, apa yang sudah masuk dalam fikiran saya ini? Melihat orang lain mendapat penghasilan lebih besar disini, mempunyai kesempatan kerja lebih lama, tiba-tiba saya ingin seperti mereka. Padahal Alloh sudah mencukupi semua ini, saya bisa hidup dengan makan enak, tempat tinggal layak, masih diberi kesempatan untuk berbagi dengan keluarga, juga untuk menabung. Lalu nikmat mana lagi yang didustakan?

Dasar manusia, serakah! Ya Robb, hamba ingin terbebas dari belenggu ini…

Kadang….

Saya melihat hidup orang lain begitu nikmat, ternyata mereka hanya menutup kekurangannya tanpa berkeluh kesah, dan disadari atau tidak, diluar sana ada juga orang lain yang ingin hidupnya seperti kita,

Saya melihat teman-teman hidupnya tidak ada duka kepedihan, ternyata mereka hanya pandai menutupi dengan mensyukuri,

Saya melihat hidup saudara saya tenang tanpa ujian, ternyata mereka begitu menikmati badai ujian dalam hidupnya,

Saya melihat hidup sahabat-sahabat begitu sempurna, ternyata mereka hanya berbahagia menjadi apa adanya,

Saya melihat hidup tetangga begitu beruntung, ternyata mereka selalu tunduk pada Alloh untuk bergantung,

Dan setiap hari saya belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang saya temui, ternyata saya yang KURANG MENSYUKURI nikmatMu… Bahwa sebetulnya di dunia ini masih banyak yang belum beruntung seberuntung yang saya miliki saat ini. Dan satu hal yang saya ketahui bahwa Alloh tak pernah mengurangi ketetapanNya, hanya sayalah yang masih mengkufuri nikmatNya.
Maka, saya merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain,

Mungkin saya tak tahu dimana rezeki saya, Tapi rezeki saya tahu dimana saya,
Dari lautan yang biru, bumi dan gunung, Alloh sudah memerintahkannya menuju pada diri ini,
Alloh menjamin rezeki saya, sejak empat bulan sepuluh hari dalam kandungan Ibu,

Ternyata amatlah keliru jika bertawakal rezeki dimaknai dari hasil bekerja, karena bekerja adalah ibadah, sedangkan rezeki itu urusanNya, Melalaikan kebenaran demi mengkhawatirkan apa yang dijaminNya, adalah kekeliruan yang berganda,

Manusia membanting tulang demi angka simpanan gaji yang mungkin besok ditinggal mati,
Manusia lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya,

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Alloh menaruh sekehendakNya… Rezeki itu kejutan, dan tidak boleh dilupakan bahwa tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak: “Darimana dan digunakan untuk apa?” Karena rezeki hanyalah “hak pakai” bukan “hak milik”,

Maka pada akhirnya, saya tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain. Jika saya iri pada rezeki orang, juga seharusnya saya iri pada takdir kematiannya!

Singkat cerita, pada saat video call dengan Bapak: “Neng, orang kaya raya dengan uang milyaran yang bersedekah seratus atau dua ratus juta akan kalah dengan orang tak mampu, tapi ia sedekahkan uangnya seribu rupiah padahal entah besok mau makan apa. Dimata manusia tentu uang seribu akan kalah dengan seratus juta, tapi itu akan berbeda di mata Alloh, kucinya ikhlas! Jangan khawatirkan rezeki, yang penting kamu sudah berusaha. Ikhlas itu berat, tapi terus dilatih. Bapak sampai saat ini tidak punya apa-apa, tidak punya rumah bagus dan kendaraan seperti orang lain seusia Bapak yang sudah memiliki banyak hal, karena itu bukan tujuan Bapak, mengumpulkan uang tapi lupa dengan sekitar. Ikhlas menerima ketentuan Alloh dan yang penting kita terus bermanfaat untuk orang banyak.”

Ya Robb…
Ampunilah diri ini, hati yang kotor ini. Seharusnya hamba menempatkan rasa iri pada tempatnya, dunia ini fana,
Berilah cahaya pada gelapnya hati ini ya Alloh, Hati kadang lupa yang terlena mimpi dunia,
Diri yang kotor ini hanya bisa bersimpuh meminta petunjuk dan ampunanMu…
Terimakasih atas segala nikmat iman, islam ini, Jadikan kami terus tenang dalam beribadah kepadaMu ya Robb….

Kembalikan lagi hamba padaMu, semoga hamba bisa kembali menata hati ini, mudahkanlah semua dengan rahmatMu
Jangan biarkan dzikir dan iman ini hilang…….

Dua minggu tanpa bekerja ini semoga menjadi renungan di bulan yang suci, jauh dari iri dengki dan semoga kualitas hidup menjadi lebih baik... ikhlas dan syukur itu indah....

Tuesday, January 6, 2015

2 Safarnya Wanita

Pernah dalam satu buku saya membaca bahasan mengenai hukum safar wanita, saya betul-betul penasaran dengan pembahasan ini karena saya sendiri sering melakukan perjalanan seorang diri tanpa ditemani siapapun. Saking penasarannya saya banyak membaca tulisan dan mencari ceramahnya, ya Rabb ampuni saya baru tahu sekarang. Sekali lagi islam betul-betul memuliakan wanita, sendi-sendi kehidupan diatur sedemikian rinci, tak luput dari hal kecil sekalipun, Alloh memang Maha Segala-galanya, Mashaa Alloh. Adapun penjelasan safarnya secara umum dan beberapa pembahasan yang saya dapatkan dari rumahfiqih.com, edukasi kompasiana dan lainnya, saya rangkum sebagai berikut:

Safarnya para wanita tanpa mahram
Musafir itu adalah isim fail dari kata dasar yang berbentuk kata kerja : safar. Safar adalah melakukan perjalanan, sedangkan musafir adalah orang yang menjadi pelaku atau orang yang melakukan safar. Lawan dari musafir adalah muqim. Muqim adalah isim fail dari kata dasar aqama - yuqimu yang artinya menetap atau bertempat tinggal. Muqim berarti bertempat tinggal atau menetap.
Secara etimologis, kata safar dalam bahasa Arab bermakna qath'ul-masafah (قَطْعُ الْمَسَافَةِ), yaitu perjalanan menempuh suatu jarak tertentu. Safar adalah “berpergian” namun tanpa dibatasi dengan jarak perjalanannya (menurut pendapat yang lebih kuat). Maksudnya, jarak safar ditentukan oleh urf (kebiasaan). Jika kebiasaan masyarakat setempat mengatakan “perjalanan tersebut” termasuk safar/berpergian maka orang tersebut dikenakan hukum safar seperti sunnahnya mengqasar shalat (yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat).

Namun dalam istilah para fuqaha (ahli fiqih) yang dimaksud dengan safar bukan sekedar seseorang pergi dari satu titik ke titik yang lain. Namun makna safar dalam istilah para fuqaha adalah :
أَنْ يَخْرُجَ الإنْسَانُ مِنْ وَطَنِهِ قَاصِدًا مَكَانًا يَسْتَغْرِقُ الْمَسِيرُ إِلَيْهِ مَسَافَةً مُقَدَّرَةً عِنْدَهُمْ
Seseorang keluar dari negerinya untuk menuju ke satu tempat tertentu, yang perjalanan itu menempuh jarak tertentu dalam pandangan mereka (ahli fiqih).

Para ulama sepakat bahwa agar suatu tindakan dikatakan sebagai safar, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain harus ada niat atau kesengajaan untuk melakukan safar, musafirnya harus keluar dan meninggalkan dari tempat dia bermuqim sebelumnya, juga harus punya tujuan tertentu, kemudian juga harus ada jarak tertentu yang minimal untuk dilalui. 

Semua ketentuan safar di atas akan berakhir bila terjadi hal-hal tertentu, dimana hukum-hukum yang tadinya berlaku untuk musafir pun tidak lagi berlaku. Di antara hal-hal yang mengakhiri hukum safar adalah tiba kembali ke tempat asal, atau tiba di tempat muqim yang lain, atau berniat untuk menetap di suatu tempat dalam waktu tertentu untuk sementara waktu.

a. Tiba Kembali Ke Tempat Asal
Bila seseorang telah selesai melakukan perjalanan dan telah kembali ke tempat asalnya, yaitu rumah tempat tinggalnya, maka berakhirlah hukum safar atasnya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan, apakah perjalanan yang dilakukannya hanya 1 jam saja atau pun memakan waktu berbulan-bulan. Pokoknya, asalkan dia sudah tiba di rumahnya, maka otomatis sudah selesai perjalanannya. Dan walaupun niatnya cuma pulang sebentar saja dan langsung pergi lagi, secara hukum tetap saja dianggap sudah selesai dari safarnya pada saat sudah berada di rumah. 

b. Tiba di Tempat Lain Yang Hukumnya Tempat Muqim
Bila seseorang punya dua tempat muqim atau lebih, meski bukan rumah miliknya sendiri, maka pada tempat-tempat yang hukumnya juga berlaku sebagai tempat muqim itu, juga berlaku hukum untuk bermuqim. Contohnya adalah Rasulullah SAW yang aslinya tinggal di Mekkah. Ketika beliau hijrah ke Madinah, memang saat itu beliau berniat untuk menjadikan kota itu sebagai tempat tinggal keduanya. Maka selama tinggal di Madinah, beliau tidak pernah mengqashar atau menjama' shalat. Sebab hukum kota Madinah bagi beliau SAW adalah tempat muqim, meski beliau bukan asli orang Madinah. Ketika Anda memutuskan untuk tinggal di suatu tempat, katakanlah di Jerman, dengan tujuan kuliah, tentu saja hukum Jerman buat  Anda ibarat hukum Madinah buat Rasulullah SAW. Tidak ada istilah musafir, karena pada kenyataannya Anda dan Rasulullah SAW sama-sama menetap dalam kurun waktu yang lama. Kemusafiran anda hanya sebatas anda di atas kendaraan, terhitung setelah keluar dari salah satu rumah anda di dua tempat berbeda itu, dan berakhir ketika anda sudah sampai di salah satu dari dua tempat anda yang lain.

c. Niat Menetap Sementara Lebih Dari Empat Hari
Hukum safar juga berakhir ketika seseorang dalam suatu perjalanannya, berhenti dan berniat untuk menetap sementara lebih dari empat hari. Dasarnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika melakukan perjalanan haji di tahun kesepuluh hijriyah. Dari fakta itu maka kebanyakan ulama menarik kesimpulan, bahwa apabila seseorang menetap untuk sementara, tanpa niat untuk menetap seterusnya di suatu tempat di antara perjalanan safarnya, maka selama durasi empat hari, dia masih terbilang sebagai musafir. Akan tetapi bila durasi itu melebihi empat hari, maka hitungannya secara hukum sudah dianggap bermuqim. Walau pun niatnya tidak muqim, tetapi hukumnya hukum orang yang muqim. Oleh karena itu semua fasilitas kebolehan dalam safar sudah tidak lagi berlaku.

Ditilik dari domisili seseorang, dalam Fiqih terdapat tiga istilah yaitu Mustawthin,Muqimin dan Musafir. Perbedaan status domisili ini berelasi juga terhadap beberapa hukum ibadah, terutama sholat. Berikut adalah penjelasannya :

Musafir : adalah orang yang sedang bepergian untuk tujuan tertentu. Jarak perjalanan yang membuat orang dianggap sebagai musafir adalah kurang lebih 80 KM dan lagi selama perjalanan orang tersebut tidak berencana untuk menetap di daerah tertentu lebih dari 3 hari. Jika musafir berencana menetap di suatu tempat 3 hari atau lebih, maka statusnya bukan lagi musafir, dan juga jika perjalanannya tidak lebih dari 80 KM, maka orang tersebut juga belum bisa disebut sebagai musafir (secara Fiqih). Seorang musafir mempunyai keistimewaan dalam melaksanakan ibadah, yaitu diperbolehkan Menjamak sholat (mengerjakan 2 sholat dalam sekali waktu), diperbolehkan meng-qoshorsholat (meringkas sholat dari 4 rekaat menjadi 2 rekaat), membatalkan puasa Romadhon dan juga meninggalkan sholat Jum’ah (menggantinya dengan sholat dluhur). Yang perlu digaris bawahi, privilege ini hanya berlaku bagi musafir yang tujuan perjalanannya bukan untuk ma’shiat. Kalau tujuannya adalah untuk ma’shiat seperti ngapelin pacar, ya tentu saja privilege ini hilang J

Muqimin : ini yang sering disalah pahami karena kemiripannya dengan kata dalam bahasa Indonesia “pemukim”. Status Muqimin adalah untuk orang yang melakukan perjalanan lebih dari + 80 KM namun berencana menetap di suatu tempat lebih dari 3 hari. Domisili selama lebih dari 3 hari ini bukan untuk menjadi penduduk tetap dan di kala waktu ada rencana untuk pulang ke kampung halaman. Contoh yang paling mudah dari orang yang berstatus muqimin adalah anak kos, santri pondok dan juga mahasiswa yang sedang belajar di luar daerah. Orang dengan status muqimin tidak lagi mendapat privilege seperti musafir.

Mustawthin : penduduk tetap adalah orang yang menetap di suatu daerah dan tidak akan pulang ke daerah lain karena memang rumahnya adalah di situ. Atau lebih mudahnya, alamat KTP-nya adalah di daerah tersebut. Tapi tentu saja ini penentuan mustawthin bukan dilihat dari KTP tapi dari keinginan orang itu sendiri. Kalau orang tersebut sudah menganggap daerah tersebut sebagai rumah tempat tinggal tetapnya, maka orang tersebut sudah bisa disebut sebagai mustawthin di tempat tersebut. Mustawthin tidak mempunyai privilege seperti musafir dan tidak seperti muqimin.

Oya sahabat, bisa kita saksikan kenyataan di sekitar kita, semakin banyak kaum Muslimah mengadakan safar tanpa didampingi oleh mahramnya, termasuk saya L. Dan ternyata amalan semacam ini tak lain hanya akan membawa kebinasaan bagi wanita tersebut baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu agama Islam yang hanif memberikan benteng kepada mereka (kaum Muslimah) dalam rangka menjaga dirinya, kehormatannya dan agamanya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106,Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahramnya.” Kemudian seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah ! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Keluarlah bersama istrimu (menunaikan haji).” (Dikeluarkan hadits ini oleh Muslim dan Ahmad)

Diatas adalah sedikit gambaran mengenai safar dan safar wanita. Semoga dengan kita mengetahui pembahasan mengenai hal iini khususnya bagi wanita akan difikir-fikir lagi ya untuk melakukan perjalanan sendiri, khususnya bagi saya yang dahulu punya keinginan untuk keliling Indonesia sendiri, dan bagi saya juga ini merupakan suatu dukungan moral karena mendukung agar saya tidak bekerja di travel sebagai tour leader yang pekerjaannya harus menemani wisatawan mengunjungi berbagai tempat berhari-hari. Begitu pula dengan perjalanan umroh, yang saya alami saat mengurus dokumen perjalanan umroh bagi wanita yang dibawah usia tertentu bepergian tanpa mahram harus disertakan biaya tambahan untuk surat mahram (dan ternyata surat ini adalah pembuatan akta seorang wanita untuk dimahramkan kepada orang lain, Subhanallah, sebetulnya apa boleh?) Duh islam sudah begitu mulia menjaga wanita, patutnya kita bersyukur dan lebih bisa memuliakan diri, difikirkan juga saat mempunyai keinginan untuk study di luar negeri jika hanya sendiri J

Semoga bisa bermanfaat ya sahabat, semakin banyak tahu, semakin banyak berfikir deh. Banggalah menjadi seorang muslimah. Wallohu A'lam Bishowab…

Saturday, December 20, 2014

0 Pentingkah Wisuda?

Wisuda, yang diplesetkan jadi:”wissss… udah”, hehehe. Udah apa? Udah kelar belajarnya? Wisuda yang dinantikan banyak orang, bukan termasuk saya tapi. Awalnya saya meminta izin pada orang tua untuk tidak mengikuti acara ini, karena yang saya fikir daripada uangnya digunakan untuk acara gajelas yang buat ribet dan ngantuk, lebih baik saya gunakan untuk les. Iya ga? Lumayan kan 2,5 bisa untuk modal belajar sebulan, hehehe, namun saat saya diskusi di telepon dan apa jawaban orang tua? Tepatnya Bapak lah yang membuka pemikiran saya, Bapak bilang saya harus mengikuti prosedur kampus selagi itu adalah hal yang tidak memberatkan. Apa boleh buat pada akhirnya mendaftar lah saya sebelum pergi melaksanakan tugas.

Ini si Ombos ikut nimbrung aja diantara cewek-cewek
Alasan lainnya untuk tidak mengikuti acara ini adalah, wisuda itu ribet, orang tua harus datang kesini dan sebetulnya kebanyakan orang hanya mengincar foto dengan menggunakan toga lalu dipajang di rumah, hadeuhhh. Ngapain coba? L

Ini lagi si Bang Tambun ikut-ikutan sama cewek
Bagi saya, wisuda itu lebih bergantung pada kebutuhan masing-masing, namun pada kenyataannya ya banyak sekali yang antusias terhadap acara ini, berduyun-duyun memboyong keluarga besar dan pada saat sebelum acara ataupun pada saat penyusunan proyek akhir, banyak status dan gambar-gambar yang berkaitan dengan wisuda, khususnya toga. Ada yang saya ingat yaitu:
“Lagi berjuang kelarin kuliah, biar bisa selfie pake toga.”
“Tidur dulu ah, mana tau besok wisuda.”
Yang paling menggelitik yaitu:”Lamar aku stelah aku wisuda” Pengen banget ya? Hihihihihi. Dan masih banyak lagi. Sepenting itukah wisuda? Hhmmm. Acara yang identik dengan perayaan, perayaan puncak kejayaan mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan sebagai penanda kelulusan setelah menempuh proses belajar. Iyakah?

Foto bersama alayers Gayo, karena baru kita yang dateng
Apakah wisuda itu biasanya dihadiri orang-orang tersayang? Bapak menyuruh saya ikut wisuda, sementara Bapak sendiri tidak mau ikut, bilangnya:”Yang ikut acaranya biar Mamah sama Uwa, Bapak dirumah saja.” Sontak Mamah bilang:”Duh Bapak, sepanjang Neng kuliah, belum pernah tau kampusnya dimana, belum pernah nengok, apalagi mengantar, masa iya wisuda juga tidak ikut?” Saya Cuma bisa senyum J Dan derengdeng pada akhirnya yang mendampingi acara ini adalah Mamah dan Bapak, tanpa kaka dan adikku, keduanya tidak bisa ikut, untuk adikku lebih tepatnya tidak mau ikut. Keluarga yang gamau ribet emang ya, hihihi.

Kelakuan
Baiklah, pada saat tiba di lokasi ya heboh bertemu dengan teman-teman, foto sana-sini, acara dimulai rasanya biasa saja ya seperti biasa teman-temana kelasan saya yang sudah seperti keluarga heboh dan urat malunya terkadang putus. Inikah tabiatnya anak pariwisata? L Pada saat acara dimulai, ya inilah yang saya khawatirkan, acara yang membosankan, ada yang tidur karena semalaman tidak bisa tidur, ada yang ngobrol karena merasa perbincangan lebih asik daripada mendengar sambutan-sambutan, ada yang selfie karena tidak ingin melewatkan moment cantik dan gantengnya, ada yang sibuk makeup, ada yang nguap terus karena dari subuh sudah bangun mempersiapkan makeup dengan ibu salon, ada yang maenah hp terus karena sibuk update dan check in di path, ada yang terus-terusan komentarin orang yang muncul dilayar, hahaha masih banyak lagi deh pokonya. Jangan salahkan acara wisudanya, tapi coba dirubah polanya agar tidak membuat jenuh hadirin. Yang dinanti tiba, yaitu pada saat naik ke panggung salaman dengan si bapak sambil nunduk mindahin tali, awalnya biasa saja tapi saat mulai jalan ke depan teman-teman pada deg-degan. Hihihi, Kata Septin:”Anggap saja sedang liburan.”

Trio Cetar ditengah yang diapit Nona Ambon dan Sumedang
Hal yang menjadi catatan saya berikutnya adalah bully-an wisuda mengenai pasangan. Hadeuhhh… Harapan saya awalnya ingin ikut wisuda didampingi dengan orang tua beserta suami dan anak, tapi sepertinya hal ini tidak memungkinkan, boro-boro sambil gendong anak, suami aja belum ada, wkwkwkw. “Ka, lu wisudaan apa ambil rapor SD? Masih ye ditemeninnya Cuma sama orang tua.” Jlebb, hahaha, iya juga ya, teman yang lain rombongannya banyak, sementara saya hanya didampingi kedua orang tercinta. Tapi apalah artinya, toh mereka sudah lebih dari apapun untuk saya, I love u Mamah Bapakku. Oya sedikit cerita, setelah acara selesai banyak orang diluar sana yang bawa hadiah dan bunga, dan ternyata kebanyakannya adalah pasangan wisudawan-wisudawati ataupun sahabat atau kerabat, lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Ditambah saat ada Bang Victor yang baru nyampe dari Jogja, kasih bunga mawar ke Siska didepan mata gueeeeeee, dan parahnya saya tau kisah cinta mereka dari awal masuk hingga sekarang, hahaha, yaudah saya senyumin lagi deh. Orang-orang foto dengan membawa buket bunga dan hadiah, namun saya foto hanya dengan senyum ceria, kalo boleh puter lagu mah saya request deh “sakitnya tuh disini” hahahha.

Pada saat berlangsungnya acara hingga usai, tidak ada derai air mata diwajah kami. Tapi besoknya baru merasa sedih, oya kita kayanya akan sulit untuk berkumpul karena sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Tapi pasti ada saatnya kita dipertemukan lagi, good luck ya keluarga Tango, teman-teman PBU, dan semuanya, biarkan ukhuwah yang telah terjalin selama 40 bulan ini akan menjadi selamanya. Point penting yang bisa saya tarik kesimpulan adalah, ternyata wisuda adalah salah satu hal yang bisa membuat orang tua saya bahagia. Jadi, seberapa pentingkah wisuda? J

Thursday, December 4, 2014

0 Perjalanan Hidup Manusia

­Tulisan ini terinspirasi saat saya menggendong bayi usia 1 hari yang raut wajahnya masih suci, bersih tanpa dosa,  pipinya lembut, suara tangisnya adalah hiburan tersendiri, jauh jauh sangat jauh sekali dengan saya yang sudah hidup 20 tahun di dunia yang sudah terkontaminasi dahsyatnya zaman. Inilah  perjalanan manusia, dilahirkan ke dunia dengan suci, namun akankah kembali lagi dalam keadaan suci? Itulah pilihan. Terfikirkah posisi kita sedang di mana sekarang, mau ke mana, bawa apa, tugas kita apa?

Sucinya bayi tanpa dosa sedikitpun
Sebetulnya dalam Al-Quran sudah banyak dijelaskan bahwa perjalanan manusia bukan sebatas di dunia, melainkan masih harus menempuh beberapa tahapan. Namun silaunya dunia terkadang menggoda umat sehingga melupakan dunia setelahnya. Jika kehidupan dunia hanya senda gurau, masa iya kita akan terus bercanda, kan tidak?

Kenikmatan di dunia itu diibaratkan setetes dari luasnya lautan. Terkadang saat kita menikmati kenikmatan dunia saja rasanya luar biasa yah, coba kalau perbandingannya dengan nikmat akhirat? Akan menjadi sungguh super duper luar biasa bukan? Ya, saya seorang hamba yang menginginkan nikmat akhirat yang bocorannya sudah dipaparkan dalam Al-Quran, dibawahnya terdapat sungai-sungai mengalir, tidak ada percakapan yang sia-sia, akan hidup bersama orang-orang terbaik, duh Mashaa Alloh, indahnya sangat didambakan.

Masihkah kita mengejar tetesan dan mengorbankan nikmat akhirat yang sebesar lautan? Ya Rabb, ini nasihat untuk diriku sendiri, menuliskannya disini sebagai pengingat agar saat ku membaca, yang terlintas adalah kematian yang sebentar lagi akan menimpaku, sudah berapa jauh aku meninggalkanMu? Sudah berapa banyak pahala yang ku perbuat? Sungguh diri ini berharap ampunan dan kasih sayangMu ya Rabb. Aku tak ingin menggadaikan nikmat akhirat di dunia yang sempit ini, izinkanlah kami untuk terus mengharap ridhoMu dalam menjalankan hidup ini, selalu membawaMu dalam setiap aktivitas kami, agar apa yang kami lakukan itu tak hanya berdampak untuk dunia, melainkan untuk alam setelah ini.

Ya Rabb, jangan jadikan kami orang yang sibuk dengan dunia, sibuk mengejar materi untuk menafkahi kehidupan ini, izinkan kami menjadikan dunia sebagai sebenar-benarnya bekal untuk akhirat nanti. Karena proses perjalanan hidup manusia tidak hanya hingga kematian, proses utuhnya adalah mati-hidup-mati-hidup sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah (28): ”Bagaimana kamu ingkar kepada Alloh, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepadaNyalah kamudikembalikan.”

Manakah mati yang pertama? Yaitu saat dalam kandungan ibu sebelum ruh ditiupkan. Setelah ruh itu ditiupkan, maka jadilah seseorang yang hidup. Nah dalam kehidupan ini mau digunakan sebagai masa menanam atau masa panen? Seperti pepatah yang maknanya mendalam yaitu Man yazra' yahshud (Siapa yang menanam, dia akan memetik/memanen). Jika kita menjadikan dunia ini ladang untuk menanam, maka mari menanam sebanyak-banyaknya pahala dengan ibadah, menjalankan segala yang diperintahkan serta menjauhi segala yang dilarang Alloh, semoga hidup menjadi lebih nyaman. Namun jika dunia ini digunakan sebagai ladang panen, maka akan terus berlomba-lomba mengumpulkan harta tanpa memperhatikan cara memperolehnya dari mana, terus mengejar perhatian manusia dan sanjungan dari banyak orang.

Setiap orang sudah punya jatah umur masing-masing, sejauh apapun menghindari kematian tetap saja jika sudah waktunya ya harus kembali kepada Sang Pemilik, dalam keadaan apa? Semoga kita semua dapat menghadapNya dalam keadaan Khusnul khotimah.

Alloh sudah memberikan akal agar manusia bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang harus diambil dan tidak, menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang. Alloh telah menurunkan Al-Quran sebagai pedoman yang isinya betul-betul lengkap, sebagai pedoman hidup maha lengkap, sebagai pemberi kabar baik bagi yang mau berfikir, dan adanya Rosul sebagai tauladan umat di akhir zaman, apa masih kurang? Ampuni kami Ya Rabb…

Friday, October 24, 2014

2 Pentingnya Lingkungan

Istiqamah adalah hal yang bisa dikatakan sulit digapai apabila niat kita belum betul-betul lurus. Ya, keistiqamahan menjadi modal penting bagi seseorang yang telah berhijrah. Godaan syaiton yang tidak ada hentinya untuk mencelakai akhlak manusia dirasa begitu besar, akan tumbuh dan bahkan sulit hilang apabila si objek yang dituju memberikan kesempatan syaiton itu untuk masuk.

Godaan bukan hanya berupa hal-hal besar, hal sepele seperti lingkunganpun bisa menjadi jalan mereka untuk mencederai keimanan seseorang. Terkadang manusia dihadapkan dalam lingkungan yang tidak selalu sama. Ada kalanya seseorang yang telah berhijrah, menghadapi kondisi lingkungan baik yang memang bisa terus mendukung pribadinya untuk terus dan terus menjadi lebih baik. Namun ada kalanya harus berada dalam lingkungan kurang baik yang mengharuskan seseorang itu memegang peranannya.

Lingkungan baik, anak-anak ummi :)
Balik lagi kepada hakikat kehidupan, bisa diibaratkan apabila dalam suatu ruangan gelap, kita bisa menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar, dengan cara apa? Dengan cara mempengaruhi lingkungan itu untuk menjadi lebih baik. Memang terasa sulit apabila kita belum memahami karakater masing-masing individunya, namun akan menjadi hal yang mudah setelah kita memahami dan masuklah kepada hati mereka untuk menyampaikan kebaikan, sekecil apapun itu apabila teladan dakwah kita adalah Rosululloh yang mengajarkan kelembutan dan kesantunan dalam menyampaikan, Inshaa Alloh si pendengar akan merasa tersentuh hatinya. Namun bukan berarti dalam lingkungan ini kita bisa mudah mengendalikannya, apabila lingkup minoritas sudah barang tentu pengaruh buruk itu akan muncul. Balik lagi kepada niat dan hati yang bersih.

Terkadang dalam kondisi sulit menghadapi lingkungan yang buruk, saat kita tidak bisa berbaur mempengaruhi, maka kitalah yang akan terpengaruh. Sebisa kita menghindar, pada akhirnya hanya bisa berdiam diri dan menjauh. Hal ini bisa menjadikan kita seperti orang aneh, orang pemurung, pendiam, namun tidak ada pilihan lain daripada kita tergolong kedalam lingkungan yang kurang baik. Kondisi sepereti ini apakah menandakan kita harus meninggalkannya? Bisa dikatakan iya, namun bisa juga kita harus kembali merefresh kondisi dengan mendatangi lingkungan baik yang telah menjadikan kita berhijrah atau berikanlah waktu untuk kita berkumpul dengan orang-orang baik, temui mereka dan ambil energy positif sebagai bekal kembali menghadapi lingkungan buruk, hehe. (Doa saya biasanya: “Ya Alloh, kuatkanlah hamba dalam keterasingan ini.”)

Ummi rindu kalian Nak :)
Dalam lingkungan yang baik, akan mudah bagi kita untuk meningkatkan keimanan. Karena pada dasarnya iman seseorang itu naik turun, maka pintar-pintarlah mengelola kondisi lingkungan yang dihadapi. Di lingkungan baik, bisa diibaratkan kita berada dalam ruangan terang dan kita semakin bercahaya karena diterangi oleh lingkungan. Dalam jiwa seseorang memang ada porsi untuk mempengaruhi, adapula porsi untuk dipengaruhi, semoga kita semua tergolong orang yang bisa mempengaruhi orang lain kearah kebaikan dan bisa mengatasi pengaruh-pengaruh buruk yang menghampiri dan mengubahnya menjadi pengaruh baik.

Kembali lagi pada pedoman hidup kita yaitu Al-Qur’an, yang didalamnya terdapat beberapa doa untuk diistiqamahkan, berikut doanya:

Doa Mohon Ampunan dan Istiqamah
“Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Ali ’Imran [3]: 147)

Doa Agar Tetap Istiqamah
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (rahmat). Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia (untuk menerima pembalasan) pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Alloh tidak mengingkari janji.” (QS. Ali Imran [3]: 8-9)

Doa Mohon Kesabaran dan Keistiqamahan
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah [2]: 250)

Wednesday, October 22, 2014

0 Memaknai Perjuangan

Berjuang bukan hanya di medan perang, berjuang bukan hanya sekedar pertumpahan darah, perjuangan yang sulit saat kita harus berperang melawan hawa nafsu, berjuang mengendalikan diri dari setiap godaan. Filosofi perjuangan hidup bisa dicontohkan saat kita mendaki. Jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk melakukan pendakian, mengorbankan waktu, tenaga dan biaya untuk dapat merasakan keindahan tersembunyi yang sebetulnya baru kita bayangkan dan bisa kita rasakan saat sudah sampai di tempat yang dituju dan terkadang apa yang dibayangkan tidak selalu sama dengan kenyataan, bisa jadi lebih indah atau bahkan sebaliknya.

Perjuangan menggapai impian
Dalam mempersiapkan perbekalan yang harus disediakan bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan ada orang lain dalam tim juga yang harus diperhatikan. Sama halnya dalam kehidupan, bekal yang kita perlukan dalam menggapai suatu keinginan jangan hanya terfokus pada diri kita, tapi coba untuk melihat orang lain, coba perduli terhadap orang lain. Dalam setiap yang kita miliki, ada hak orang lain yang kadang kita lupakan.

Dalam mengawali pendakian, akan dirasa berat, banyak berhenti dan akan ada tengokan ke belakang yang terkadang mempengaruhi kita untuk balik lagi dan tidak melanjutkan perjalanan. Nah ini juga yang sering terjadi dalam kehidupan, saat kita sedang memperjuangkan sesuatu, di awal begitu banyak  godaan, kita harus berhenti sejenak untuk menghela nafas panjang. Jika kita menggunakan panah, ia harus ditarik ke belakang agar bisa melesat jauh. Jika kita lihat bola bekel (bola bekles) juga harus dilempar kebawah agar bisa melompat lebih tinggi, ini artinya butuh tekanan yang menjadikan kita mundur selangkah demi kemajuan berlangkah-langkah. Apabila fase awal sudah dilewati, maka kedepannya akan lebih mudah Inshaa Alloh.

Saat sudah ditengah perjalanan, kita harus beristirahat yang cukup lama. Jangan memaksakan dan lihat kemampuan kondisi kita, saat kita mampu untuk melanjutkan tanpa butuh istirahat, ingat lagi bahwa kita mendaki dalam sebuah tim, perhatikan kondisi orang lain. Sama seperti kehidupan kita saat sudah merasakan indahnya berjuang, malah terlalu disibukkan dengan hal-hal tersebut sehingga lupa kepada kesehatan, lupa juga kepada orang lain yang mempedulikan kita. Badan kita mempunyai hak untuk beristirahat, orang terdekat juga mempunyai hak untuk mengingatkan kita (misalnya orang tua), jangan egois dan jangan sombong merasa bisa tanpa istirahat cukup, sesungguhnya tergesa-gesa itu tidak baik, bukan berarti berlama-lama juga baik. Tapi kenali kemampuan kita, intinya jangan memaksakan!

Namun saat kita beristirahat terlalu lama juga akan menjadikan malas melanjutkan perjalanan, menjadikan kita lalai. Maka harus diperhatikan bahwa beristirahatlah yang cukup! Apalagi saat sudah mendekati puncak, namun belum pasti puncaknya ada dimana, rasa lelah akan terus melanda. Bisa dikatakan saat kita sedikit lagi menggapai impian yang diperjuangkan, namun belum tahu pasti kapan bisa dicapai dan sejauh mana lagi akan menjadikan kita malas dan merasa lelah. Motivasi dari diri sendiri sangatlah penting, misalnya: “Neng itu puncak, di puncak ada KUA, ayo semangat, kan sebelum KUA ada bale desa dulu, nah bale desanyaa sedikit lagi sampai.” Hehehe (ucapan diri sendiri sebagai penyemangat). Motivasi eksternal juga penting ya sahabat, sebagai pelengkap.

Saat tiba dipuncak, Mashaa Alloh, kita betul-betul merasakan kekuasaan Alloh, Keagungan-Nya yang menjadikan kita jangan sombong, kita bukan apa-apa, kita bukan siapa-siapa. Menyaksikan kebesaran Alloh membuat kita semakin bersyukur. Puncak adalah tempat yang kita tuju, puncak diibaratkan seperti impian yang telah kita perjuangkan. Untuk menggapainya membutuhkan perjuangan berat, membutuhkan penelusuran jalan yang membuat kita menemukan makna dari setiap jalan yang dihadapi, bukan hanya satu melainkan banyak jalan yang bisa mempercepat atau malah memperlama proses pencapaian itu. Apabila kita ketahui sebelumnya dan ketahui teknik penemuan jalan yang baik maka akan memudahkan dalam pencapaian. Adapula jalan yang cepat sampainya namun rintangannya sangat besar, namanya jalan pintas, sama halnya dengan hidup kita yang dikorbankan menghantam banyak cobaan namun mempercepat pencapaian impian, ini mengharuskan kita tidak mudah putus asa dan kuat dalam perjalanannya. Dan ada jalan yang biasa-biasa saja, mudah dihadapi namun membutuhkan waktu yang relatif lama, jadi kita mencapainya tidak membutuhkan perjuangan yang berat, hanya mengikuti alur dan mengadopsi “alon-alon asal kelakon”. Pilihannya ada ditangan kita, tinggal menentukan mau yang mana.

Dalam mencapai impian, bukan berarti hanya berhenti disana dan berdiam diri terus menerus menikmati apa yang dicapai. Kan kita harus pulang lagi ke tempat asal, harus turun lagi. Sudahkah mempersiapkan diri untuk turun? Ataukah masih terlena dengan pencapaian? Penting diperhatikan bahwa saat sudah mendapat apa yang kita ingin, ada saatnya kita mengembalikan pada pemiliknya lalu hanya bisa merasakan sekejap dan  kembali harus menghadapi rintangan hidup yang nyata.Kalau orang hidup sampai disini ya tidak akan naik kelas, hidup monoton. Tapi keuntungannya saat kita turun, akan lebih cepat dan tidak terlalu menguras tenaga, hanya butuh penahan pijakan agar bisa mengontrol laju langkah kita. Jangan terlalu cepat mentang-mentang kita sudah tahu medannya, nanti malah kaki menjadi sakit karena terlalu kuat menahan. Selanjutnya biar sahabat yang menarik kesimpulan ya, hehe terlalu panjang artikel dikhawatirkan membuat mood membaca menjadi turun.

Intinya, setelah kita mendaki suatu tempat, mendakilah ke tempat lain, jangan melulu kesana. Ada tempat lain yang jauh lebih indah, yang jauh lebih membutuhkan perjuangan untuk menggapainya. Jadi, setelah impian terwujud, gapailah impian-impian lain agar membuat hidup kita semakin berkualitas. Selamat berjuang sahabat.

Friday, October 3, 2014

0 Oh, ilmu......

Mempelajari suatu ilmu karena Alloh itu cermin ketaatan. Mencarinya adalah jihad. Mengkajinya adalah tasbih. Mengajarkannya adalah sedekah dan membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi. (Mu’adz bin Jabal).

Kita kaji satu persatu yu sahabat, tapi berdasarkan pandangan saya ya, jadi “mohon dimaklum” hehehe.
Yang harus diperhatikan dalam mencari ilmu
Mempelajari suatu ilmu karena Alloh itu cermin ketaatan, kalimat ini betul-betul membukakan pemahaman saya. Cermin ketaatan bisa digapai dengan mempelajari suatu ilmu, iya mempelajarinya bukan hanya menjadikan kita pandai, namun menjadikan kita taat. Itu pahalanya besar, ibarat kita mempunyai kesenangan terhadap suatu ilmu ya ini semakin menjadikan kita taat. Sudah mah suka, ditambah taat. Udah deh mantep banget kan. Ditambah lagi kita akan memperoleh jaminan kemenangan, hayu dibuka Al Ahzab 71: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Dan barang siapa menaati Alloh dan RosulNya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.”

Mencarinya adalah jihad. Jihad bukan berarti dan bukan melulu kita harus ikut berperang. Alloh begitu memudahkan hambaNya dalam beribadah. Semakin kita banyak mencari ilmu, semakin banyak pula jihad yang kita laksanakan. Tahu kan pahala berjihad itu besar? Ya semakin banyak pula pundi-pundi pahala yang kita kumpul. Mashaa Alloh.

Mengkajinya adalah tasbih. Dalam pandangan saya, mengkaji itu berarti mencari tahu, memperdalam dan kepo deh terhadap ilmu itu. Bertasbih kan ibadah, bertasbih itu bergerak dalam ketaatan, jika kita terus mengkaji ilmu, jadi ibadah kita semakin banyak. Tuh kan, kurang apalagi coba?

Mengajarkannya adalah sedekah, sedekah itu banyak caranya. Tidak ada kerugian jika kita mengajarkan ilmu yang kita punya. Ilmu yang bermanfaat kan termasuk salah satu pahala yang tidak akan terputus. Dengan kita mengajarkan ilmu, semoga kita sedang berinvestasi untuk akhirat. Ilmu kalau tidak dibagi kepada orang lain, mau diapakan? Apabila kita mengajarkan suatu ilmu, tanpa kita sadari itu adalah proses kita untuk mengingatnya. Kalu kita ingat, semakin terekam dalam otak, semakin mantap juga kan ilmu yang kita miliki.

Membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub. Taqarrub itu mendekatkan diri kepada Alloh, semoga aktivitas ini bisa terus menjadikan kita dekat dengan Sang Maha. Duh begitu bahagianya orang yang selalu dekat dengan Alloh, kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun.
Dan yang saya rasakan memang betul, ilmu adalah pendamping saat sendirian. Dengan ilmu yang kita miliki, kesendirian akan kita manfaatkan dengan hal-hal berguna sesuai dengan ilmu yang kita punya. Jadi sendirinya kita kan tidak akan sia-sia dan tidak akan dimanfaatkan oleh setan, akan menjadi sendiri yang berkah, hehehe.

Ilmu itu teman karib saat menyepi. Menyepi bukan berarti kita tidak memiliki siapapun, Ada Alloh yang setiap saat bersama kita. Ilmu menemani kita disaat sepi, coba bayangkan kenikmatan menyepi dengan ilmu yang luas akan menghasilkan hal-hal yang besar. Biasanya inspirasi akan datang saat kita menyepi, nah ilmu itu sebagai referensi yang menumbuhkan ide. Ide yang besar didasari atas luasnya ilmu.

Ya Alloh, begitu lamanya hambaMu ini menyia-nyiakan ilmu. Padahal dari ilmu itu ladang pahalanya begitu luas, luas seluas-luasnya. Betapa cepatnya waktu bergulir, mengapa tak digunakan sebaik mungkin, padahal ia adalah kesempatan untuk persiapan menuju perjalanan yang jauh dan kekal. Ampuni kami ya Rabb…….

Duhhh… makin jatuh cinta deh saya sama ilmu, ditambah dengan manfaat yang begitu banyak. Bukan hanya untuk dunia, melainkan untuk bekal akhirat. Ilmu tidak hanya bisa kita jumpai didalam lingkungan sekolah, namun kepekaan kita dalam membaca situasilah akan semakin menambah ilmu. Lingkungan menjadi sumber ilmu yang besar, manfaatkan ya sahabat. Oya, Lelahnya kita mencari ilmu akan Alloh balas, semoga setiap langkah kita dalam mencarinya selalu mendapat keberkahan.

Sahabat, semoga Alloh memudahkan kita dalam menuntut ilmu disebabkan oleh adab yang mulia (tidak akan menjadikan kita sombong). Sebagaimana Alloh dulu memudahkan para ulama kita dalam mempelajari segala macam ilmu sehingga peradaban Islam menjadi peradaban ilmu yang paling maju di dunia. Semoga kita semua bisa meluruskan niat,mensucikan hati dari ria dan dari segala maksiat, tawadhu dan betul-betul mengharap ridho Alloh, agar segala perjalanan kita selalu ditempuh dengan kemudahan dan kelancaran. Amiin.


Mari belajar,,,,, mencari sesuatu apa adanya, akurat dan objektif,ohhhh ILMU.

Thursday, July 4, 2013

2 Anda Jatuh Cinta?

Assalamualaikum dear.........
Kali ini postingan saya bahas masalah cinta ya, berbicara tentang cinta ibarat bicara tentang hal yang tak ada ujungnya, cinta yang memang lahirnya fitrah, manusiawi, lebih tepatnya saya akan bahas tanda tanda jatuh cinta. Sebagian besar sumbernya saya ambil dari buku karya Ust. Felix Siauw yang cetar sekali di tahun ini dengan judul Udah Putusin Aja!
Oke tanpa menunggu banyak waktu, saya akan analisis perasaan yang sering terjadi dalam diri kita :)



Perasaan yang awalnya biasa saja, entah mulai kapan muncul rasa. Bergejolak dalam dada laksana air mendidih menggelegak. Pikiran penuh dengan wajahnya dan lidah tak bisa dikendalikan untuk selalu menyebut namnya. Senyum yang jarang terlihat kini jadi bingkai wajah dan entah kenapa seluruh dunia juga seolah membalas senyumnya :)

Saat berjauhan rindu, tapi bertatap muka malu. Saat tak jumpa terbayang-bayang, namun saat bertemu canggung meradang. Ribuan kata dalam akal pikiran sudah terangkai, namun lidah kelu kaku dan lunglai. Dari pesimistis berubah jadi romantis, dari oportunitis bisa berganti puitis.

Anda paham diri anda adalah seorang pemberani, namun mendadak gagap dihadapannya. Anda tahu diri anda tidak terlalu senang berkorban untuk orang lain, tapi dihadapannyaseolah ada seribu nyawa baginya. hihihi, terlalu berat bahasanya memang. Namun inilah gambaran yang mungkin pernah anda rasakan, sedang atau bahkan kelak akan anda rasakan. Jangan khawatir ya dear, jangan panik juga, karena hal ini bukanlah sebuah dosa, setidaknya hal ini belum tentu jadi sebuah dosa, tergantung kita akan membawanya kemana.

Sudah dikatakan bahwa cinta itu memang fitrah, indikasi kedewasaan. Bila sudah merasa jatuh cinta, ucapan selamat pantas disematkan untuk anda, karena itu tansa normal dan baik-baik saja :)

Sebagai lelaki dan wanita yang normal, wajar rasa cinta itu muncul, apalagi jika sudah berinteraksi dalam waktu yang lama. Satu kelas, satu kantor, satu pengajian, satu gerakan dan segala "satu" yang lainnya, namanya juga "satu" ya mau gimana lagi. Namun bukan berarti setelah kita dianugerahi rasa cinta lantas kita bisa mengekspresikannya sesuai dengan kehendak kita. seperti apapun yang kita inginkan. Ingat, ada masanya, ada caranya, ada aturannya. Karena itu, islam diturunkan oleh Allah supaya kita bisa tetap menjadi manusia, bukan hewan yang bebas berekspresi saat mereka jatuh cinta.

Aturan islam sederhana dear, bila cinta datangi walinya dan menikahlah. Bila belum siap, persiapkan diri dahulu dalam diam. Mana yang akan kalian pilih??? Mungkin sebagian bertanya, kenapa ga pacaran aja??? kenapa harus langsung nikah??? Pacaran kan...........

Lalu, banyak pertanyaan lainnya muncul, Taraaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Tapi kan??????

"Pacaran itu menambah semangat belajar" hehehe ini alasan yang lucu karena bertentangan dengan fakta yang ada namun pernah juga saya alami :p Mungkin awalnya semangat belajar karena ingin membuktikan kepada pacarnya kalo ia pintar (nah, ini saja sudah bermasalah niatnya) namun kedepannya yang terjadi justru nilai jeblok bin hancur. Karena pacaran itu ibarat candu yang bikin ketagihan, nafsu yang harus terus dipenuhi. Akhirnya malah kepala penuh dnegan bayangan dan khayalan yang tidak semestinya.

"Pacaran itu menjalin tali silaturahim" Silaturahmi itu berasal dari kata shilah yang berarti hubungan dan rahim itu berarti rahim bunda . Artinya yang dimaksud dengan menjalin silaturahim sebenarnya adalah menyambung hubungan antar kekerabatan dekat yang terhubungkan dengan rahim. Jika serius menjalin silaturahim, lebih utama ke orang tua sendiri, kakak-adik, kakek-nenek, paman-bibi, atau mahram lainnya. Bukan alasan pacaran menjalin silaturahim, padahal buyutnya aja beda :)

"Pacaran nggak ngapa-ngapain kok, cuma pegangan tangan" hmmm.... "cuma" itu kata yang berbahaya. Karena memang kemaksiatan awalnya juga "cuma"

"Pacaran nggak ngapa-ngapain kok, cuma teleponan" watsssaaahhhh, sudah dibahas diatas ya, kata "cuma" itu tidak baik :)

"Pacaran cuma katakan sayang, katakan kangen" Ingat lagi, bahwa semua dosa besar diawali dengan "cuma"

"Pacaran itu kan tanda cinta, Allah kan memerintahkan manusia untuk mencinta?" Kalimat ini mulai puitis, namun salah langkah :p Allah memang Zat yang penuh cintakarena Dia yang menurunkan rasa cinta bagi manusia. Karena itu, Allah memerintahkan untuk menikah agar cinta itu bisa diungkapkan dengan halal.

"Pacaran kan buat dia bahagia, bukankah menyenangkan orang itu amal saleh?" Bagaimanakah dengan orang tuamu, pernah engkau bahagiakan? Tambahan lagi nih, sebenarnya siapa sih yang anda bahagiakan, dirinya atau dirimu sendiri? hehehe

"Pacaran itu kan penjajakan Pra-Nikah" Yang ada malah penjajakan pra-putus, hehehee, karena setelah penjajakan, lalu bosan dan akhirnya cari yang lain deh. Masalahnya nikahnya belum pasti kapan (bisa 2, 3 atau 10 tahun lagi) sedangkan penjajakannya sudah jalan duluan.

"Pacaran karena aku sayang padanya" Bila sayang tapi mebahayakan, bila cinta tapi menjerumuskan, ya percuma :(

Memang pacaran dalam islam gak boleh ya? Iya, Rasulullah Saw melarang segala jenis khalwat yang bukan mahram.

Walau beda negara gitu, LDR? mau beda negara, beda alam, beda dunia, mau LDR, mau tetangga, tetep aja gak boleh, hehehe

Kan pacarannya gak ngapa-ngapain? Kalo nggak ngapa-ngapain aja udah dosa, mending gausah :)

Tapi kan kita punya perasaan,  So, harus bilang WOW gitu? hehehe

Kalo pacaran kan bikin positif? (jangan sampe bikin positif ha***) Maksudnya bersamanya bikin rajin shalat? Shalatnya untuk Allah atau untuk pacar?
Kalo orang tua udah

Kalo orang tua udah restui kita? mau orang tua yang kasih restu, mau orang utan, tetep aja pacaran maksiat

Jadi ga boleh ni? kalo dikit aja gimana? Waaahhh nawar, udah kayak di pasar aja hehehe...

TERUS SOLUSINYA GIMANA?

kan Allah ciptakan rasa cinta? ya Menikah, itu solusi dan baru namanya serius

Yaaa saya kan masih belum cukup umur??? Sudah tau belum cukup umur dan belum niat nikah, kenapa malah mulai pacaran

Pacaran kan enak , nikmat... Iya, nikmat bagi laki-laki, bagi wanita itu penyesalan penuh air mata

Pacar saya udah bilang dia serius sih, 6 tahun lagi baru dia lamar saya,,, Itu mah ngga serius, sama aja kaya teken kontrak untuk hidup sengsara selama 6 tahun ke depan

Pacar saya bilang nunggu sampe punya rumah, baru lamar... Itu agen properti atau calon suami? ngga serius banget hehehe

Pacar saya bilang nikahnya nanti kalau udah cukup duit,,,, Alasan klise yeaaah itulah yang cowok katakan untuk tunjukan betapa dia miskin komitmen

Pacar saya bilang mau nikah, tapi nunggu saudaranya nikah dulu, ya putus aja dulu! Tunda aja hubungannya sampe sodaranya nikah

Pacar say bilang dia siap, tapi nunggu lulus dulu. Hehehe alasan yang paling menunjukan ketidakseriusan, nggak siap namanya

Pacar saya siap ketemu orang tua sekarang juga, tapi sayanya yang belum siap,,, CAPE DEHHHH!!!

Ya udah, kakak-adik aja yak? wkwkw.. maksa banget. Mau kakak adik, om tante, engkong-cucu, tetep aja pacaran gaboleh

TERUS YANG SERIUS ITU YANG GIMANA? yang berani datangi wali, dapet restu dan segera menikah :)

Ngomong nikah sih mudah, saya serius kok, cuma modalnya belum ada!

Kemarin....Belum lulus ni, nanti aja kalo udah lulus, kuliah kan amanah orang tua
Hari ini.... Belum punya pekerjaan, mau kasih makan anak orang pake apa???
Besok..... Masih jadi kuli, untuk sendiri aja belum cukup, apalagi untuk berdua
Lusa..... Gaji masih dibawah UMR, cuma cukup buat gali lubang tutup lubang
Minggu depan..... Belum punya kendaraan, nanti kalau sudah menikah susah mau pergi kemana-mana
Bulan depan...... Belum punya rumah, masa nanti sudah nikah mau ngontrak terus?
Tahun depan..... Wahhhhhh saya baru kena pecat :(
Tahun-tanhun selanjutnya isi sendiri ya dearrrrrr hehehehehehe

CINTA, satu kata yang takkan habis dibicarakan, sepanjang waktu, kata yang akan terus laku dijual dalam dunia cerita, dunia layar dan dunia nyata, cinta itu tak bisa dilihat namun nyata dirasakan. Cinta tidak dapat diciptakan atau dipaksakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat beralih bentuk.

Udah sekian dulu ya dear bahasannya, untuk kesimpulannya bisa anda buat sendiri:) masih panjang memang, namun jika terlalu panjang bosan juga dibacanya. Bukan bermaksud untuk menggurui, semua manusia pernah salah termasuk saya.  Namun kalau sudah tahu kita salah apa kita harus tetap saja seperti itu. Dengan dibuatnya artikel ini, bukan berarti saya manusia yang taat dan benar, namun saya sedang belajar menjadi manusia yang lebih taat lagi. Saya posting artikel ini juga sebagai manusia biasa, sebagai remaja yang pernah mengalami masa-masa diatas, sebagai orang yang sadar dan berusaha untuk berubah.Niat saya hanya ingin mengingatkan saja, mudah-mudahan kita semua tetap berada dalam lindungan Allah, dengan niat kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aminnn #UdahPutusinAja

Tuesday, May 28, 2013

0 Uang hanya berhenti di titik senang

Ini postingan saya setelah sekian lama vakum dari dunia blogger. Kali ini yang akan saya bahas adalah uang. Uang, uang, uang ya uang memang merupakan kebutuhan vital dalam berjalannya kehidupan manusia. Namun dengan adanya uang bukan berarti manusia akan senang. Ada 1 kalimat yang perlu direnungkan, kalimat yang saya jadikan judul artikel ini yaitu “uang hanya berhenti di titik senang”. Kenapa? Memang uang bisa membeli kesenangan, namun bukan berarti senang itu bahagia. Nah maka itu saya akan bahas dulu arti serta bedanya antara senang dan bahagia.

Pernahkah Anda merasa bahwa kebahagiaan sulit ditemukan? Pernahkan Anda berpikir bahwa kebahagiaan itu jauh disana? Di tempat yang dipenuhi dengan keindahan alam, barangkali? Atau kebahagiaan itu ada pada kendaraan mewah, rumah bagus, dan sebagainya yang bersifat materi? Hhmmm… Jika ya, maka Anda patut untuk waspada. Kenapa? Sebab, yang Anda maksud di atas adalah kesenangan, bukan kebahagiaan. Senang dan bahagia itu jelas berbeda. Senang lebih pada hal yang bersifat materi dan terlihat oleh panca indra manusia. Sedangkan bahagia ada di dalam hati, di alam yang tak bisa kita lihat secara kasat mata. Sehingga, kebahagiaan pada hakikatnya ada di dalam diri Anda. Ada di dalam pikiran Anda. Selalu menempel ke mana pun Anda pergi.

Artinya, kebahagiaan itu bergantung pada diri Anda sendiri. Tidak terpaku pada orang atau hal lain, misalnya orang tua, keluarga, teman, harta, jabatan, dan sebagainya. Orang yang bergelimang harta, pendidikan tinggi dan memiliki jabatan kelas atas, belum tentu merasakan kebahagiaan. Bisa jadi hidupnya dipenuhi oleh rasa was-was dan ketakutan. Sedangkan orang yang tinggal di gubuk kecil, makan pas-pasan, justru merasa bahagia dan menikmati kehidupannya dengan penuh kesyukuran. Sehingga, ukuran bahagia pada dasarnya bukan pada materi yang dipunya. Melainkan ada pada cara Anda mensyukuri apa pun yang telah Allah beri. Bahagia ada pada cara Anda menilai dan mempersepsikan arti kebahagiaan itu sendiri.

Mari kita simak dulu cerita dibawah ini. Tak bisa dipungkiri dan tak munafik juga, Hampir semua orang ingin mempunyai uang yang banyak agar bias mencukupi kebutuhannya. Mereka bekerja keras banting tulang dari sebelum terbit matahari bahkan hingga matahari tak menampakkan wujudnya lagi, hal itu didasari karena alasan “mencari uang”. Ya memang tanpa uang manusia berfikir tidak akan bisa hidup, namun banyaknya uang juga akan membuat manusia tidak bisa hidup, ya maksudnya disini tidak bisa hidup dengan tenang alias selalu was-was takut hartanya hilang atau habis dirampok atau was-was karena hal lain, apalagi uang yang didapat itu jika bukan dari jalan yang halal.

Sebaliknya, orang yang secara ekonomi terlihat serba pas-pasan, namun mencari dan mendapatkan rizki itu dengan cara yang halal dan baik, kemudian menyadari bahwa apa pun yang ia peroleh merupakan rizki pemberian Allah yang patut disyukuri, berpikir positif dan mengupayakan dengan penuh kesungguhan untuk kebahagiaannya dengan tidak bergantung atas besar atau kecilnya, atas tinggi dan rendahnya jabatan, maka bahagia itu pun dapat diraihnya. Mudah kan???

Jadi, bahagia itu pada dasarnya mudah dan sederhana. Kuncinya adalah dengan menyadari bahwa rasa bahagia itu adalah hak dan milik semua orang. Kebahagiaan tidak memandang kaya atau miskin. Tidak memandang tingkat pendidikan. Tidak melihat perbedaan jenis kelamin dan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki jabatan tinggi. Semua orang dapat merasakannya. Semua orang dapat menikmatinya. Sehingga, cara merasakan dan menikmati akan hadirnya kebahagiaan itu tiada lain dengan mensyukuri atas apa yang sudah kita miliki. Bersyukur atas apa yang telah Allah karuniakan. Entah, apa pun bentuknya. Baik itu kesenangan maupun kesedihan. Itulah pemberian Allah yang patut disyukuri. Bersyukur bukan hanya berhenti kata-kata. Sebagaimana Abu Hudzaifah Al Atsari mengatakan bahwa syukur memiliki rukun yang pokok, yaitupertama, mengakui dalam hati bahwa nikmat tersebut dari Allah Swt. Kedua, Mengucapkannya dengan lisan. Dan ketiga menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridha-Nya. Sudahkah Anda bersyukur hari ini??? Bersyukur masih punya keluarga yang saying kepada anda, mempunyai orang disekeliling yang benar-benar peduli dengan anda, itu juga wujud bahagia ko J

Satu kalimat yang bias diingat yah teman, “bila kau rasa uang bisa membeli segalanya, disaat itu engkau sudah menjual kerendahan hati”. Naudzubillah......


sebagian sumber

Pengunjung Blog Saya

 

Coretan Riska Anjarsari Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates